Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
16 Apr 2011   08:00:30 pm
SELAMAT BERKONGRES SNKI


Tinggal Hitungan Jari - SNKI akan melaksanakan Kongresnya yang pertama, artinya kota Surakarta (Solo) telah mencatat sejarah seperti halnya pernah pertama kali PON di Solo dan banyak lagi catatan sejarah kota Solo.

Sangat pantas bahwa kota ini mengangkat ikon Keris sebagai lambang kota yang berbasis budaya dari sumbernya yaitu Keraton. Para peserta Kongres terutama mereka stakeholder perkerisan pasti akan sangat mewarnai KOTA SOLO, dan tentu juga pak walikota Joko Wi akan mendapatkan sebuah momentum yang jika digarap secara apik akan menjadikan megahnya citra kota Surakarta (Solo). Apalagi jika nanti pengurus yang terpilih dalam Kongres SNKI, bisa membuat sebuah program yang mengangkat NILAI EKONOMI dengan message nilai-nilai Budaya.

Sudah beberapa kali saya merintis peningkatan minat dan pasar (NILAI EKONOMI berbasis BUDAYA) dengan proklamasi keris Kamardikan, tentu akan lebih terwujud jika SNKI nanti ada jalinan yang baik dengan Pemerintah. Juga hubungan luar negeri yang harus tergarap untuk membuka pasarnya. Jika pameran gencar di seluruh dunia, tentu Keris akan duduk sebagai sebuah komoditi seni yang mahal. Juga Keris sebagai ikon Indonesia akan berkaitan dengan pariwisata yang sangat lekat dengan nilai budayanya. Wajar jika museum-museum di Bali pun mulai memajang keris, dari yang sepuh dan Kamardikan.

Bagi yang tidak berpaguyuban juga banyak kelompok kecil yang berpotensi, yang bakal meruap muncul dengan gaya profesional. Kita akan mengalami masa keemasan keris seperti jaman Sultan Agung, nanti dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk peserta Kongres : SELAMAT 'BERKEMAS' MENUJU SURAKARTA; 'berkemas'lah juga dengan konsep dan idea yang matang dan progresif untuk memajukan perkerisan.

SALAM BUDAYA.
Category : Album | By : administrator

10 Apr 2011   06:31:22 pm
Kanjeng NYAI Sri Tanjung

KK. Sri Tanjung tangguh Kediri dan KN Sri Tanjung tangguh Kamardikan

Keris dengan muatan Epigramatik telah dimunculkan kembali dalam ciptaan tangguh KAMARDIKAN. Mewarnai KONGRES NASIONAL I SNKI. Dijadikan cover buku ”Keris, Mahakarya Nusantara”.

Sebelumnya banyak keris yang sengaja untuk mengutarakan tema, dan menjadi media seni seperti memuat dongeng, kisah yang kemudian melegenda serta tulisan kakawin, seperti keris Kanjeng Kyahi Arjuna Wiwaha (tangguh Kediri) yang dihiasi relief tentang Arjuna yang digoda oleh bidadari cantik dalam pertapaannya.

Jika pada jaman Kediri pernah dibuat keris Kanjeng Kyahi Sri Tanjung koleksi KRAT. Ali Rahmatdiningrat, kemudian yang sekarang karya Toni Junus menamakannya dengan Kanjeng NYAI Sri Tanjung.

Kisah Sri Tanjung telah populer di dunia sastra kuno, memuat sebuah pesan tentang kejujuran, tekad, kesetiaan dan niat suci. Pesan dari ikon keris Kanjeng Nyai Sri Tanjung perlu dihayati sebagai falsafah dengan nilai-nilai yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, agar pembangunan dan perjalanan bangsa Indonesia tidak meninggalkan jati diri, Indonesia harus berbangga sebagai bangsa yang memiliki banyak sekali warisan budaya yang bermuatan falsafah, pekerti dan budi luhur.

Sekelumit tentang kisah Sri Tanjung saya beberkan agar dapat dimengerti sebagai inspirasi.

SRI TANJUNG
Cihnane luwih, yan suganda nelikup, Hyang kala wus prapta....

Secuil doa, yang sempat dilantunkan oleh Sri Tanjung kepada dewata. Dalam duduk simpuhnya, perempuan jelita itu menyadari hidupnya tak akan lama. Saat doa ditutup, Sida Paksa, pria yang baru menikahinya, menghunjamkan keris dengan kemarahan membabi-buta. Gending selonding pun riuh rentak.

Tubuh Sri Tanjung terkulai. Perlahan sukmanya menghadap ke kahyangan. Tapi pintu tertutup rapat, mungkin saat kematiannya belumlah tiba.
Dalam keremangan, muncul Betari Durga, penguasa kematian.
Sosoknya membara, pertanda dia hendak mengembalikan kesucian yang telah terenggut. Dengan tirai transparan membalut tubuh Sri Tanjung, Durga meruwat perempuan itu, dan Sri Tanjung kembali hidup.

Kisah asmara segitiga antara Sida Paksa (Mahapatih), Sri Tanjung dan Prabu Sulakrama (sang Raja) dalam sastra kuno yang masih berkumandang. Sida Paksa dan Sri Tanjung merupakan dua sejoli yang tengah mabuk kepayang. Ketika Sida Paksa menikahi dan memboyong Sri Tanjung ke kerajaan, muncul petaka. Prabu Sulakrama, sang penguasa, kepincut pada kemolekan Sri Tanjung.
Untuk memisahkan Sida Paksa dari Sri Tanjung, sang Raja mengutus Sida Paksa keluar memburu pengacau di belantara.

Saat Sida Paksa berangkat kesana, Prabu Sulakrama merayu Sri Tanjung. Namun Sri Tanjung yang setia kepada Sida Paksa, menolak rayuan sang Raja. Nafsu berahi meruap, Sulakrama memerkosa Sri Tanjung. Sang Raja lalu memutarbalikkan kejadian ini. Kepada Sida Paksa yang telah kembali dengan selamat, dia justru menuduh Sri Tanjung merayu dirinya. Sida Paksa lebih percaya kepada sang penguasa ketimbang kepada belahan jiwanya. Tragedi pun terjadi. Sri Tanjung dibunuh oleh Sida Paksa atas keyakinannya bahwa ia telah bersalah mengotori kerajaan. Namun ditengah Sri Tanjung terkulai, darahnya justru menebar semerbak wewangian. (digubah dari artikel Sita P. Aquadini).

-tj
Category : Album | By : administrator

30 Mar 2011   10:15:25 pm
JANGKER WAYANG APA ITU?

Karya tahun 2006 bahan Nantan Iron Meteorite

Jika kita berkumpul dengan orang-orang yang mencintai keris, tampaknya kita selalu terperangkap oleh bentuk-bentuk keris yang itu-itu saja, juga terhadap apa yang disebut keris bagus, pakem, sesuai selera mereka. Padahal ribuan kreasi empu telah meluncur dan banyak diantaranya menjadi populer seperti Tilam Upih, Brojol, Sengkelat bahkan Nagasasra. Tetapi yang tak populer justru diburu oleh orang asing, dimana oleh Bambang Harsrinuksmo keris-keris nyleneh itu digolongkan keris Kolowijan.

Sekarang setelah Cirebon (Jawabaratan) terkuak, banyak sekali keris-keris Jawabaratan (Cirebon) yang sangat jarang ditemui bentuknya dan keanehannya. Kita harus mengakui dengan decak kekaguman terhadap keris nyleneh (Kolowijan) yang sering ditemukan di Cirebon, mereka punya nilai artistik tersendiri, dan banyak diantaranya melenceng dari bentuk keris.

Ketika saya menggarap dapur luk rengkol ”Goyang Inul”, saya sempat berbangga dapat menciptakan sesuatu yang orisinal... tetapi ternyata saya salah... empu masa lalu pernah menciptakannya bahkan ada salah satu tombak yang rengkolnya mirip karya saya itu ternyata Kanjeng Kyahi Ageng Dumung, tangguh Pengging yang masih disimpan oleh salah seorang cucu dari Paku Buwana X.... nah lalu Kamardikan Kontemporer yang bagaimana?

Tampaknya kita harus mulai mengenal apa yang disebut trik baru dalam mempopulerkan sebuah karya, dan hal ini sudah berlaku di jaman kuno dulu. Mungkin saya sebut saja dengan istilah ”pseudoscience”, antara tinemu ing nalar dan tan tinemu ing nalar... artinya jika kita melakukan evolusi, ternyata kita masih berputar di sentral yang sama. Kita hanya berkeliling menangkap artificial-artificial yang kemudian dituangkan pada sebuah karya... Contoh soal, tahun 2006 saya sempat membuat keris yang saya sebut sebagai keris wayang, mungkin sekarang bisa disebut dengan JANGKER WAYANG (?). Karena beberapa waktu yang lalu muncul ciptaan nyebrat ’pakem’ yang dinamai Jangker karya seniman Hardi (Jangker singkatan penggabungan dari Kujang dan Keris), saya heran ide tersebut sangat mirip dengan yang saya pikirkan walau berbeda konsepnya. Bagi saya ini sebuah evolusi keris walau mungkin saja masih termasuk pada golongan ”pseudoscience” tadi. Nah jika begitu, tampaknya perkerisan ini sangat kaya dalam hal bahan pembahasan atau bahan kajian, baik untuk keris sepuh maupun keris kamardikan.

Mungkin saya lebih suka menyebutnya bahwa keris siap untuk didiskusikan secara ilmiah walau mungkin pula tidak bakal ketemu ”apa itu ilmiahnya” keris. Tetapi setidaknya ada kemajuan berpikir yang tidak dogmatis dan tidak terperangkap oleh stereotype kuno (saya maksud selera mapan yang ada). Kawula perkerisan harus berani mengkaji nilai-nilai baru lagi... Karena kenyataannya kawula keris tak pernah sanggup merinci atau mendefinisikan apa itu ”pakem” yang selalu diagem sebagai senjata menolak kreatifitas ciptaan baru keris Kamardikan.

Oleh karena itu dengan keterbukaan pemikiran, kita bisa menyumbangkan sedikit rasa belas kasihan pada keris-keris unik yang terus terbang ke luar negeri... mencari tempatnya, tentu dengan wawasan baru untuk kemudian ikut mengkoleksi pula.
Salam kreatif.

Toni Junus
Category : Kajian | By : administrator

 
Prev 1 2 3 ...22 23 30 31 32 Next
Aug 2016 September 2016 Oct 2016
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30  
Categories
Album[51]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
TEKA-TEKI MANGKUBUMEN DAN BROJOGUNO
Kyai Guntur Geni dan Keris Brojoguno
KERIS TANGGUH KAJORAN....
MENGENANG SANG DEKORATOR - SOEGENG PRASETYO
KERIS BROJOGUNO
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Archives
January 2013[5]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[9]
May 2010[11]
March 2010[11]
February 2010[11]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[95]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter