Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
15 Aug 2013   03:57:42 pm
LAWEYAN dan KERIS


Kilas tentang Saudagar Laweyan
Laweyan merupakan kampung tradisional yang sudah ada sejak sebelum tahun 1500 M. Kelurahan/Kampung Laweyan, Surakarta – Jawa Tengah merupakan kawasan sentra industri batik yang unik, spesifik dan bersejarah.

Berdasarkan buku yang ditulis oleh RT. Mlayadipuro, desa Laweyan (sekarang wilayah Kelurahan Laweyan) sudah ada sebelum munculnya kerajaan Pajang. Sejarah kawasan Laweyan masih bisa dirunut dengan fakta artefak makam maupun letak geografisnya yaitu setelah dekade Kyai Ageng Ngenis yang bermukim di desa Laweyan pada tahun 1546 M, tepatnya di sebelah utara pasar Laweyan (sekarang Kampung Lor Pasar Mati), era sebelumnya sangat sulit dilacak kecuali hanya dari dongeng dan tutur lisan saja. Letak pasar Laweyan membelakangi jalan yang menghubungkan antara Mentaok dengan desa Sala (sekarang jalan Dr. Rajiman).

Kyai Ageng Ngenis adalah putra dari Kyai Ageng Selo yang merupakan keturunan raja Brawijaya V. Kyai Ageng Ngenis atau Kyai Ageng Laweyan adalah juga manggala pinituwaning nagara kerajaan Pajang semasa Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang pada tahun 1546 M.

Kyai Ageng Ngenis meninggal dan dimakamkan di pesarean Laweyan (tempat Sunan Kalijaga istirahat selama lelaku menyusuri sungai Bengawan Solo). Rumah tempat tinggal Kyai Ageng Ngenis kemudian ditempati oleh cucunya yang bernama Bagus Danang atau Mas Ngabehi Sutowijaya. Kemudian Sutowijaya lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar (pasar Laweyan), Sutowijaya pindah ke Kota Gede dan dalam perjalanannya kemudian menjadi raja pertama Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senopati yang kemudian menurunkan raja-raja Mataram.

Masih menurut RT. Mlayadipuro, pasar Laweyan dulunya merupakan pasar lawe (bahan baku tenun) yang sangat ramai. Bahan baku kapas pada saat itu banyak dihasilkan dari desa Pedan, Juwiring dan Gawok yang masih termasuk wilayah kerajaan Pajang. Adapun lokasi pasar Laweyan terdapat di desa Laweyan (sekarang terletak diantara kampung Lor Pasar Mati dan Kidul Pasar Mati serta di sebelah timur kampung Setono). Di selatan pasar Laweyan, di tepi sungai Kabanaran, terdapat sebuah bandar besar yaitu bandar Kabanaran. Melalui bandar dan sungai Kabanaran (Mbanaran) tersebut pasar Laweyan terhubung ke bandar besar Nusupan di tepi sungai Bengawan Solo.

Pada zaman sebelum kemerdekaan R.I., kampung Laweyan pernah memegang peranan penting dalam kehidupan politik terutama pada masa pertumbuhan pergerakan nasional. Sekitar tahun 1911 Serikat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Laweyan dengan Kyai Haji Samanhudi sebagai pendirinya. Dalam bidang ekonomi para saudagar batik Laweyan juga merupakan perintis pergerakan koperasi dengan didirikannya “Persatoean Peroesahaan Batik Boemipoetra Soerakarta (PPBBS) pada tahun 1935.


Arsitektur Rumah Tinggal
Masyarakat Laweyan jika dirunut setelah dari berdirinya keraton Surakarta Hadiningrat (Paku Buwana), bukanlah keturunan bangsawan, tetapi masih mempunyai hubungan yang erat dengan kraton melalui perdagangan batik serta jalinan kehidupan strata tinggi karena didukung oleh kekayaan yang ada (pada jaman Paku Buwana X), maka corak pemukiman khususnya milik para saudagar batik banyak dipengaruhi oleh corak pemukiman bangsawan Jawa. Bangunan rumah saudagar biasanya terdiri dari Pendopo, ndalem, sentong, gandok, pavilion, pabrik, beteng, regol, halaman depan rumah yang cukup luas dengan orientasi bangunan menghadap utara-selatan. Atap bangunan kebanyakan menggunakan atap limasan bukan joglo karena bukan keturunan bangsawan (Widayati, 2002).

Dalam perkembangannya sebagai salah satu usaha untuk lebih mempertegas eksistensinya sebagai kawasan yang spesifik, corak bangunan di Laweyan banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur Eropa dan Islam, sehingga banyak bermunculan bangunan bergaya arsitektur
Indisch (Jawa-Eropah) dengan façade sederhana, berorientasi ke dalam, fleksibel, berpagar tinggi lengkap dengan lantai yang bermotif karpet khas Timur Tengah.

Keberadaan “beteng” tinggi yang banyak memunculkan gang-gang sempit dan merupakan ciri khas Laweyan selain untuk keamanan juga merupakan salah satu usaha para saudagar untuk menjaga privacy dan memperoleh daerah “kekuasaan” di lingkungan komunitasnya.


Sosial dan Budaya
Menurut Sarsono dan Suyatno (Widayati, 2002) terdapat pengelompokan sosial dalam
kehidupan masyarakat Laweyan, yaitu: kelompok wong saudagar (pedagang), wong cilik (orang kebanyakan), wong mutihan (Islam atau alim ulama) dan wong priyayi (bangsawan atau pejabat).

Selain itu dikenal pula golongan saudagar atau juragan batik dengan pihak wanita sebagai pemegang peranan penting dalam menjalankan roda perdagangan batik yang biasa dengan panggilan ‘mbok mase’ atau ‘nyah nganten’. Sedang untuk suami disebut ‘mas Nganten’ yang berperan sebagai pelengkap utuhnya keluarga.

Sebagian masyarakat Laweyan masih aktif nguri-uri (melestarikan) kesenian tradisional, seperti: musik keroncong dan karawitan, yang biasanya ditampilkan (dimainkan) sebagai pengisi acara hajatan, seperti mantenan, sunatan, tetakan dan kelahiran bayi.

Dalam bidang keagamaan, sebagian besar penduduk Laweyan beragama Islam, terlihat aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti: pengajian, darusan, semakan dan aktivitas–aktivitas keagamaan lainnya, baik secara terjadwal maupun insidentil.


Mitos Laweyan
Ada folklor yang menjadi mitos membentuk kesan komunitas Laweyan teralienasikan. Hal ini mendorong Drs. Soedarmono, SU (Sejarahwan Surakarta - alm) menulis dalam upaya meluruskan sejarah.

Wong laweyan pada jaman dahulu, ditengah peradaban dominannya budaya feodal kerajaan, agak tidak disukai oleh kalangan bangsawan kerajaan di kota Solo. Karena komunitas Laweyan lebih mencerminkan gaya hidup yang praksis dalam dunia ekonomi industri dan perdagangan batik. Wacana prilaku ekonomi perdagangan dan industri batik di Solo ini dianggap kurang pantas terlibat dalam pergaulan masyarakat feodalistik kerajaan. Sebagian besar bangsawan kerajaan yang gaya hidupnya lebih mencerminkan pola hidup establish pada system ekonomi feodom, agak kurang senang hidup berdampingan dengan wong Laweyan yang mencerminkan gaya hidup sebagai entrepreuner yang dianggap egois, kikir, dan dianggap cenderung pamer kekayaan. Bangsawan kerajaan takut bersaing dalam hal meraih ethos hedonis Jawa: drajad, semat dan pangkat, maka dengan segala cara, orang Laweyan dialienasikan, diasingkan dari pergaulan masyarakat Jawa. Folklore yang muncul untuk mengalienasikan ethos pedagang dan industriawan batik kaum perempuan ini antara lain,

1. Eksistensi komunitas dagang Laweyan di jaman Pajang, dialienasikan dalam folklor Raden Pabelan yang melakukan perselingkuhan dengan putri raja Ratu Sekar Kedhaton. Peristiwa itu mengakibatkan dijatuhkannya eksekusi mati atas Raden Pabelan bertempat di Laweyan. Folklor ini seolah-olah menjadikan wacana memori kolektif orang Jawa dalam Babad minor Pajang, untuk akses pembenaran (legitimasi) bahwa sudah layak dan sepantasnya orang yang melanggar tata-krama adat istana harus di-eksekusi hukum "Lawe" (digantung dengan tali = lawe), dan yang sangat disengaja eksekusi itu dijatuhkan di Laweyan.
2. Folklor Kyai Ageng Ngenis, ini adalah folklore yang sangat tendensius untuk mengklaim bahwa kawasan Laweyan adalah bagian dari ekologi cultural kraton, bukan ekologi pedagang lawe yang telah lama ada (Pajang). Konon menurut cerita lokal, asal usul nama tempat “laweyan” sangat berhubungan erat dengan nama tokoh lokal yang disakralkan, yaitu Kyai Ageng Ngenis. Di era pemerintahan Sultan Hadiwijoyo di Pajang, Kyai Ageng Ngenis, putra Kyai Ageng Selo, adalah tokoh cikal-bakal Mataram. Karena jasanya yang besar atas berdirinya kasultanan Pajang, beliau diberi hadiah tanah “perdikan”. Tanah itu diberi nama “luwihan”, folklor ini menggeser etimologi kata 'luwihan' seolah berubah sebutan menjadi “laweyan”, karena kekaguman rakyat Pajang atas “keluwihan” (kesaktian) Kyai Ageng Ngenis.
3. Era Kartasura; Sama halnya, peristiwa yang terjadi di jaman Pajang, di era Kartasura terekam folklor eksekusi putri raja Raden Ayu Lembah. Putri pangeran Puger yang diperistri oleh Sunan Amangkurat Mas ini nekat bermain cinta dengan Raden Sukro, hingga berakhir pada eksekusi hukuman gantung dengan tali Lawe di lokasi kampung Laweyan. Dengan demikian maka tendensi politik kerajaan pada waktu itu adalah membangun opini publik agar senantiasa mengingat peristiwa yang berkaitan dengan nama Laweyan yang dikonotasikan sebagai tempat untuk pelaksanaan hukuman “lawe”.
4. Era Paku Buwana II; Kesan negatif pada folklor yang berkembang sebagai memori kolektif sejarah Mataram Kartasura hampir mirip terulang kembali di era raja Paku Buwana II, saat menjadi pelarian di pengasingan makam Ki Ageng Ngenis di kampung Laweyan. Secara kompromis raja Paku Buwana II minta bantuan pada para saudagar batik, untuk bisa diijinkan meminjam kuda-kuda koleksi para saudagar batik, untuk mendukung pelariannya ke Ponorogo. Tapi permintaan itu ditolak oleh para saudagar Laweyan, sehingga menimbulkan rasa marah raja saat itu, sampai pada sikap raja mengeluarkan sumpah serapahnya, bahwa kelak keturunannya berharap tidak boleh mengawini wanita “mbok-mase” Laweyan. Ironis memang, sesama keturunan ethnis Jawa, hanya dibedakan pada nilai filsafat sosial, ekonomi industri dan perdagangan, dan juga karena factor local-genius, terjadilah permusuhan yang meruncing sampai menimbulkan potret segregasi sosial.
5. Pada tingkatan cerita tutur rakyat Jawa tempo dulu, hampir pasti setiap orang Jawa mengenal folklor “bau laweyan” yang sangat sarkartis untuk menjatuhkan moral-ekonomi orang Laweyan. Folklore ini memojokkan komunitas Laweyan, karena pengertian bau laweyan dalam tradisi Jawa, memposisikan keturunan wanita pedagang yang memiliki perlengkapan magis (ingon-ingon) ular blorong di kemaluannya. Laki-laki mana saja yang mengawini wanita bau laweyan, pasti mati, menjadi tumbal pesugihan. Tidak jauh bedanya dengan folklore “wong kalang” yang mengisolasikan entrepreuneur kalang. Wanita kalang dipercaya sebagai yang menurunkan keturunan manusia berekor, sebagaimana komunitas pedagang kalang kamplong dan kalang bret di kawasan Bantul, Yogya selatan. Komunitas ini, dikalangan masyarakat Jawa, juga dikenal sebagai gal-gendhu kalang, diisolasi sebagai sub ethnis Jawa karena berbeda orientasi ekonomi.


Pusaka Peninggalan
Menurut Warsito Supadmo (penggemar keris sejak 1970-an dari Solo), pusaka peninggalan yang disimpan oleh keluarga saudagar Laweyan banyak dijumpai sangat bernilai tinggi. Analisa bahwa warisan Brawijaya V dan jaman kekayaan kerajaan Pajang masih tersimpan di trah keturunan Ki Ageng Ngenis dan pengikutnya cukup bisa menjadi alasan kuat. Komunitas saudagar Laweyan yang secara geografis terletak pada situs keraton Pajang, masih menyimpan pusaka (keris-tombak) tangguh sepuh. Pada tahun 1990-an, komunitas penggemar keris di Solo digemparkan dengan sebilah keris berhias relief yang keluar dari keturunan juragan Laweyan oleh sebab mereka tak tahu lagi nilai warisan leluhurnya. Keris yang kemudian dikenal dengan sebutan keris Candi Sukuh (oleh komunitas keris di Solo), jatuh ke tangan pedagang antiq yang kemudian raib entah kemana. Pasar antiq ‘Triwindu’ waktu itu masih sangat potensial mendatangkan para tamunya pemburu antik dari luar negeri. Keris mirip Kris Knaud juga pernah keluar dari tangan keluarga Laweyan dengan catatan bertuliskan ‘keris purwocarito’. (http://en.wikipedia.org/wiki/Kris_of_Knaud).

Selain itu terjadi pergeseran dimana sejak kekuasaan Sinuhun Sugih (Paku Buwana V) berlanjut pula pada kekuasaan Susuhunan Paku Buwana X, lintas perdagangan dan kehidupan sosial saudagar Laweyan terjalin membaik, perkawinan keturunan keraton dengan orang Laweyan terjadi. Pada tahun 1930-an, Susuhunan Paku Buwana X memberi kesempatan hak lisensi untuk berbisnis dalam aktifitas pegadaian Jawa. Ekonomi Surakarta semakin maju pesat, pasar Klewer (dari kata Kleweran) dulu adalah tempat orang menjajakan batik, selendang dll, yang disampirkan di pundak, lengan dan di gantung (kleweran). Potret ini terkesan menjadi pedagang kleweran dituntut mobilitas yang tinggi, lokasinya pada waktu itu menempati rumah kosong bekas rumah dinas abdi dalem Secoyudho (sekarang menjadi pasar klewer, jalan Coyudan). Keris juga saling menyilang kepemilikannya, dimana keris-keris para kanjeng ningrat keraton sering berpindah tangan ke saudagar Laweyan karena masalah ekonomi. Walaupun demikian, keris jarang disandang sebagai pelengkap busana oleh saudagar Laweyan karena menghargai pakem adat keraton dalam berbusana dan menghargai harga diri pemilik awalnya. Keris para ningrat hanya disimpan sebagai investasi, tidak dipakai sebagai pelengkap busana oleh mereka yang notabene rakyat biasa, bahkan beberapa kali dijumpai pendoq emasnya disepuh perak (silver plate) karena tidak ingin menjadi incaran perampokan pada jaman pergolakan anti penjajah Belanda. Anak-cucunya pun tidak mengetahui hal ini, sehingga pedagang antiq di pasar Triwindulah yang meraup keuntungannya.

Keris-keris warisan yang sering keluar dari para keturunan saudagar Laweyan kebanyakan tangguh Majapahit berdhapur Jalak Sangu Tumpeng, keris kinatah sekar-sekaran, keris-keris tangguh Pajang dan Mataram Senopaten, jika mendapatkan keris Pajang yang pemiliknya adalah keluarga Laweyan maka bisa disebut tangguh lempoh, yaitu dipastikan pembuatannya pada jaman Pajang.

Keris-keris Nom-noman juga sering dijumpai di keluarkan dengan perabot mas rojo brono, intan-berlian asalnya dari para ningrat Paku Buwana. Pada masa tahun 1970-an, memang situasi ekonomi terjadi perubahan dengan merosotnya perdagangan batik tulis yang bersaing dengan batik printing (cap), keris-keris banyak yang keluar untuk dijual melalui pesuruhnya, langsung dibawa ke pasar Triwindu.

Keris-keris sepuh dari keluarga Laweyan walaupun warangkanya bergaya Surakarta, akan tetapi sering ditemukan daunannya (pelog-annya) berbeda. Mungkinkah warangka di jaman Majapahit atau Pajang masih mempengaruhinya?



Disarikan dari :
- Dinamika Saudagar Kaum Perempuan Jawa di Laweyan; oleh Drs. Soedarmono, SU.
- Wawacara dengan narasumber perkerisan.

(Salam, Toni Junus Kanjeng NgGung).
Category : Album | By : administrator

14 Aug 2013   07:06:33 am
Keris Sebagai Benda Investasi



Dunia modern yang diwujudkan oleh adanya kemajuan teknologi, membuat orang yang ‘mapan’ merasakan membutuhkan obat kejenuhan. Kehidupan yang serba ‘instan’ dan ‘otomatis’ membuat sekelompok orang rindu pada masa lalu.

Perpindahan hasrat untuk kembali ke masa lalu ini dapat dilihat antara lain pada seni arsitektur. Orang moderen memiliki kecenderungan memilih rumah-rumah adat semisal ‘joglo’ atau ‘limasan’ Jawa dari pada rumah tembok. Selain merupakan hasil olah artistik pada bangunan, alasan ‘rindu’ masa lalu merupakan alasan utamanya. ‘Desa’ pindah ke kota dan ‘kota’ pindah ke desa pernah menjadi pemeo pada jaman Bung Karno. Saat ini lebih sering dijumpai rumah joglo di kota besar daripada di wilayah yang memiliki budaya ukir dan Joglo. Pasar luar negeri pun ‘melirik’ untuk boyongan rumah antik disetel di negeri sana, sehingga menjadi peluang pasar yang potensial. Rumah joglo menjadi komoditas barang seni yang cukup laku di pasar Eropa terutama negeri Belanda.

Dalam dunia hobi, rasa ‘rindu’ pada masa lalu ini terjadi pula pada benda seni tradisional dan benda-benda kebudayaan. Salah satu yang menarik adalah kerinduan pada dunia mistik. Banyak kalangan moderen yang justru haus akan hal-hal mistik dan bahkan menganut mistik.

Dalam perenungan saya, ada hal yang penting adalah bahwa ‘revelation’ atau wahyu dalam kenyataannya ada. Artinya wahyu itu akan tetap kembali pada suatu garis keturunan yang mau atau tidak mau dijalani dalam kehidupan seseorang. Sebagai contoh adanya seorang lulusan pendidikan tinggi di barat dan telah hidup moderen sejak generasi kakeknya, tiba-tiba sakit aneh dan akhirnya dalam perjalanannya (the apocalyptic; revelation process) justru kemudian kembali pada mindset kuno, traditif dan bertolak belakang dengan konsep modern. Adanya penyertaan kuasa ‘revelation’ atau ‘wahyu tinuntun’ menjadikan dirinya menghayati kebatinan (budaya spiritual) yang mungkin sudah ditinggalkan setelah generasi kakek atau ayahnya. Begitu pula dalam hal menyimpan dan mengumpulkan tosanaji (keris). Banyak kolektor tertuntun mengumpulkan keris oleh sebab adanya kewahyuan (dari leluhur?), selain itu keris dianggap sebagai benda yang dapat mewakili masa lalu, dengan keris seolah dapat membawa seseorang menembus kehidupan masa lalu yang alamiah sebagai “kerinduan idili”. Benda budaya keris menimbulkan sebuah romantisisme “admiration of eastern culture” (kekaguman terhadap budaya timur), hal yang merupakan daya tarik para penulis barat untuk menulis tentang keris.

Baca : http://www.javakeris.com/?mode=viewid&post_id=100

Kerinduan akan romantisisme masa lalu itu pun terkandung dalam sebuah pemahaman tentang ‘tangguh’, kepercayaan tuah, komposisi estetik yang terjadi pada proses penciptaan keris, hingga pada silsilah pemegang keris sebagai apresiasi pada citra garis keturunan. Walau pun banyak pula dongeng tentang tuah dan silsilah keris dibuat-buat oleh pedagangnya namun kisah dibalik keris merupakan penambah nilai dan menjadi faktor penentu nilai ekonomi keris. Artinya ‘value of history’ dan 'value of pedigree owners' menjadi daya tarik orang mengkoleksi keris.

Lalu, bagaimanakah percaturan keris di Indonesia setelah mendapat penghargaan UNESCO?

Kesinambungan pelestarian keris telah terangkai secara alamiah, tak perlu lagi keris dikawatirkan akan “punah”, karena trend kerinduan pada ‘etnisitas’ masa lalu atau “kerinduan idili” serta adanya kuasa ‘revelation’ (wahyu tinuntun) menaungi para stake-holder (perkerisan) yang berasal dari masyarakat modern. Mereka berperan sebagai kolektor yang meneruskan tradisi menyimpan dan merawat keris, baik itu secara tradisional atau dalam sisi kuratorial modern.

Maka pada masa mendatang, dipastikan dunia perkerisan akan terus menggelora oleh adanya peran-serta para kolektor, peran para kritikus seni keris dari komunitas pencinta budaya, peran seniman keris menciptakan keris-keris Kamardikan dan para pelestari modern yang mulai memposisikan keris dalam sebuah ‘galeri’ sebagai benda seni budaya yang sangat tinggi nilainya, menjadi benda seni budaya yang prestisius. Salam Budaya. (TJ)


Disunting oleh Toni Junus Kanjeng ngGung dari buku “The Power of Iron” - La Nyalla Matalitti Foundation.
Category : Album | By : administrator

18 Jul 2013   03:49:10 pm
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, MELAYANG-LAYANG UNTUK DITANGKAP OLEH
NEGARAWAN.... SIAPA YANG KUAT......?




Pada masa kejayaan Prabu Brawidjaja V, empu Supo menciptakan sebuah karya monumental sebagai penanda puncak kejayaan Majapahit, yaitu sebilah keris yang disebut Nagasasra (naga bersisik seribu) yang bermakna mengenyam 1000 macam kelimpahan, meredam 1000 bencana.

Sebelumnya, pada jaman kerajaan Singasari, keris dengan ornament naga pernah dibuat oleh seorang empu, yaitu sebuah keris Naga Sorsoran, keris dengan ornamen naga pada sorsoran keris atau bagian bawah bidang keris (sor dari kata ngisor atau bawah atau disebut dhpur Naga Salira). Keris berdhapur Naga Sorsoran ini terlihat primitif dan sederhana, kemudian tidak populer.

Berbeda dengan keris Nagasasra sebagai karya agung empu Supo kemudian diputrani hingga jaman kerajaan berikutnya, seperti kerajaan Mataram Sultan Agung, Bali, Pakubuwana dan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara.

Dalam ranah perkerisan, keris dengan relief naga merupakan sebuah ekspresi seni (estetika), memuat simbolisme dan sengkalan (catatan tahun) serta mengandung nilai spiritual. Keris Nagasasra merupakan karya masterpiece yang dianggap sebagai keris berkelas tertinggi diantara keris lainnya, sebuah karya seni yang kemudian merupakan manifestasi tercapainya kebesaran bagi pemiliknya.

Pemilihan bentuk naga sebagai relief didorong oleh sebuah harapan akan adanya 'kekuatan spiritual' dan diungkapkan dalam sebuah ekspresi seni kriya emas yang menakjubkan.

Diharapkan keris NAGASASRA-KIDANGMAS menjadi sebuah pertanda untuk negeri ini, terwujudnya harapan adanya pemimpin yang dapat merubah segala lini yang sudah kusam untuk dapat diperbaiki dan membawa Indonesia maju menjadi mercusuar dunia.

Sebelumnya Kanjeng NgGung Toni Junus telah mengutarakan isyarat pada artikel (link : http://www.javakeris.com/?mode=viewid&post_id=93)

KERIS KANJENG KYAI SABDO PALON MENUNGGU JAMAN

Toni Junus, sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia perkerisan menangkap signal yang kuat tentang akan adanya perubahan keadaan dalam pemerintahan NKRI. Dalam perenungannya, Toni Junus menganggap bahwa sabda Sabdo Palon yang menyatakan kurun waktu 500 tahun lagi, maka diperhitungkan dari tahun 1519 (bukan 1400) ditambah 500 tahun jatuh pada tahun 2019. Pada tahun 2019 itulah awal terjadinya sebuah keadaban yang menjulangkan Indonesia menjadi sebuah mercusuar dunia baik secara spiritual maupun kemakmuran ekonominya. Setidaknya adanya sistem peradaban baru dan evolusi kebudayaan yang akan berlangsung. Proses ini dilalui perlahan dari tahun demi tahun setelah 2012, menuju keadaan Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tenteram Kerta Raharja. Kembalinya Nusantara kepada peradaban lokal dan kemakmuran yang membawa negara tenteram dan penuh kebahagiaan.

Kembalinya kesadaran bangsa Indonesia untuk mengikat perilakunya pada “Jati Diri Berbangsa” yang telah 500 tahun terjajah pengaruh asing, politik, budaya dan cara berkeTuhanan yang porak poranda.

Menapaki perjalanan menuju 2019, hal-hal yang berkaitan dengan keluhuran dan budi pekerti dari kearifan lokal akan menjadi suatu semangat bersama menuju kepada essensi humanisme Nusantara. Hanya jalan inilah yang sanggup untuk meraih kemakmuran Indonesia. Maka dari itu Toni Junus menciptakan sebilah keris yang bertemakan situasi negara ini sebagai tanda monumental “Jawa kembali Jawanya”, Jawa yang diartikan sebagai Nusantara.


Keris karya Toni Junus ini dikoleksi oleh Buntje Habunangin.
Category : Album | By : administrator

 
Prev 1 2 3 4 ...28 29 30 Next
Mar 2014 April 2014 May 2014
S M T W T F S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30    
Categories
Album[45]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN
Archives
January 2013[3]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[9]
May 2010[10]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[89]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter