Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
02 Jul 2015   07:14:53 am
MENINJAU UPACARA SIDHIKARA PUSAKA
Panji Nusantara, 14 Pebruari 2006 – Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah.


Orps merupakan tangkapan fotografis dari adanya enerji (ether) - Upacara Sidikara 16 Pebruari 2006.


Tinjauan Ilmiah Kebudayaan

Makna Sidhikara :
Kata Sidhikara, dalam kamus Bausastra Jawa – Indonesia yang disusun oleh : S. Prawiroatmodjo berarti memanterai.

Memanterai berasal dari kata mantera atau mantra.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mantra adalah perkataan ucapan yang memiliki kekuatan gaib.

Makna Mantera sebagai berikut ;

Bentuk kesusastraan yang paling tua adalah mantera, sering juga disebut serapah. Kesusastraan berbentuk puisi ini merupakan sastra lisan, diturunkan dari mulut ke mulut yang hanya dikuasai oleh seorang dukun (pawang). Pawanglah yang boleh mengucapkan mantera karena mantera tidak boleh diucapkan disembarang tempat. Hal ini disebabkan mantera memiliki magi bahasa, memiliki kekuatan gaib. Dalam pengucapannya pun biasanya disertai dengan upacara ritual menggunakan dupa, senjata atau keris dengan ekspresi yang penuh bahkan sampai trance, sehingga tercapai maksudnya. (Diro Aritonang dalam Koran Pikiran Rakyat).

Mantera menurut kajian Toni Junus Kanjeng NgGung (film Tafsir Keris) adalah susunan kalimat hasil olah rasa melalui proses spiritualnya manusia. Setiap kelompok manusia atau suku bangsa sejak jaman dahulu kala memiliki mantera tersendiri termasuk suku-suku di Nusantara (orang Jawa). Mantera diucapkan berulang-ulang bahkan sudah dari abad ke-abad sehingga seolah terjadi perjanjian dengan alam semesta, maka dari itu mantera memiliki kekuatan yang dahsyat.

Manusia secara alamiah sering mengekspresikan sebuah kehendak yang disertai dengan memanfaatkan hasil alam untuk masuk kepada sebuah perjanjian itu (dalam mantera), istilah modernnya adalah membuat password (atau pin) dengan bentuk sesaji dan tingkah laku (patrap). Seperti pula pada sebilah keris buatan jaman dahulu, dari awal sudah dipersiapkan metode kerjanya secara matang dengan ritual sebagai pendukung. Maka pada tataran persiapan hingga penyepuhan (finishing) seorang empu membacakan mantera-mantera dan menggelar sesaji.

Permasalahan :
Pada era modern seperti sekarang ini kemajuan tehnologi informatika, komunikasi dan bidang transportasi sedemikian canggih. Kecepatan mobilitas dan komunikasi membawa pengaruh budaya luar yang mempengaruhi budaya setempat, budaya-budaya luar (asing) itu mendesak budaya tradisional. Celakanya, budaya asing teradopsi secara mentah sehingga masyarakat hanya menangkap simbol-simbol duniawi (barang, materi) tanpa mengadaptasikan secara cerdas nilai-nilai dan perilaku yang esensial.

Ritual-ritual dan upacara yang berkaitan dengan tosan aji (keris) walaupun masih dilangsungkan dibeberapa tempat mulai tergeser pula. Kemudian makna dan esensinya tidak lagi dimengerti dan bahkan dinafikkan, padahal tradisi tersebut merupakan warisan budaya luhur. Sementara ilmu jiwa di barat dan ahli-ahli metafisika merambah menggeluti peradaban yang sebenarnya sudah pernah kita miliki atau sudah kita lampaui.

Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan Panji Nusantara melaksanakan Sidhikara Pusaka adalah :
1. Menampilkan tradisi isoteristik yang langka untuk dokumentasi kebudayaan dalam lingkup perkerisan.
2. Sidhikara pusaka yang merupakan tradisi ruwatan yang hanya dikenal sebagian dari kalangan masyarakat pecinta tosan aji, jika pada mulanya hanya dilaksanakan di dalam kraton (secara tertutup), maka dicoba tampil secara terbuka untuk apresiasi dan menghindarkan kepunahan, mengingatkan adanya catatan atau manuskrip budaya.

Landasan historis setara dengan Upacara Sidhikara Pusaka
Nilai-nilai ruwatan atau hal-hal lain (kajian artefak) yang setara dengan tradisi Sidhikara Pusaka sudah berlangsung di Indonesia mulai dari jaman pra sejarah hingga sekarang.

Pada tradisi megalitik atau pra sejarah, di daerah Kalimantan terdapat Batu Bergores yang biasanya oleh masyarakat setempat disebut dengan Batu Babi, karena pada bagian badan batu tersebut terdapat goresan bekas asahan. Batu Babi ini oleh masyarakat setempat digunakan ritual karena dianggap keramat dan mempunyai kekuatan gaib.
Hal yang sama juga terdapat pada situs Batu Bergores dari Panggung Harjo, Lampung Tengah, dimana terdapat 3 goresan berbentuk asahan benda tajam sebagai akibat tradisi/ritual dan mengasah benda tajam untuk suatu keperluan bagi masyarakat. (Haris Sukendar, Kebudayaan No. 13 Th VII/97-98.

Pada kerajaan Mataram yang bercorak Islam oleh Sultan Agung upacara berbau hindu diubah dengan nuansa ke-Islaman, maka kita kenal adanya Gerebeg Maulud dan Gerebeg Dal. (Depdiknas, 1989-1990).

Pada tradisi kraton di Jawa seperti di Kasunanan, Mangkunegaran, Kasultanan dan Paku Alam, nilai-nilai tradisi Sidhikara Pusaka masih dilaksanakan di Kasunanan dan Mangkunegaran yang melakukan kirab pusaka pada menjelang malam 1 Syuro yaitu Tahun Baru Jawa yang pada jaman Sultan Agung dikurunkan sama dengan 1 Muharram tahun Hijriah. (disebutkan dalam satu lirik mantra Sastra Gending).

Kirab pusaka, intinya bukan pamer senjata kuno, akan tetapi cara memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung akan rahmatNya untuk mendapatkan Sih Welasaning Pangeran Ingkang Maha Wikan agar daya magis, daya prabawa pusaka-pusaka yang dikirabkan membawa keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan bagi kraton Surakarta dan Negara Indonesia se-isinya. (KRMH. Surjandjari Puspaningrat SH, Cendrawasih – Surakarta 1996).


Sesaji komplit pada upacara-upacara besar

21 Januari 2006,
Lit.Bang Paguyuban Panji Nusantara
Narasumber lisan : KPH. Darudriyo Sumodiningrat.
Disusun oleh : Toni Junus Kanjeng NgGung.

DaftarPustaka :
1. Aritonang, Diro, Pikiran Rakyat, Bandung 2000.
2. Depdiknas, Perangkat/alat-alat dan pakaian serta makna simbolik upacara keagamaan di lingkungan kraton Jogyakarta 1989-1990.
3. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 10, PT. Cipta Adi Pustaka, Jakarta 1990.
4. Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi : Dalam masyarakat Jawa, Pustaka Jaya 1989.
5. Jabar, Hasan, Beberapa catatan mengenai keagamaan pada masa Majapahit Akhir, pertemuan ilmiah arkeologi IV th 1986, Puslit Arkenas.
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Depdiknas 2003.
10. Moedjanto,G, Suksesi dalam sejarah Jawa, Sanata Dharma, Jogyakarta 2002.
11. Murtadho, M, Islam Jawa : Keluar dari kemelut santri vs abangan, Pustaka Umum 2002.
12. Prawiroatmodjo, R, Kamus Bausastra Jawa – Indonesia.
13. Sukendar, Haris, Batu bergores sebagai simbol religius, Kebudayaan No. 13 Th VII 1997/1998.

Category : Album | By : administrator

21 Jun 2015   09:37:20 am
Empu PAUZAN PUSPOSUKADGO


"Ki Haji Pauzan Pusposukadga (1941-2014)", seorang empu pandhe di Surakarta, semula bekerja sebagai montir dan sopir bus malam, perhatian terhadap dunia perkerisan mulai timbul sejak tahun 1971 tatkala menjadi anggota Boworoso Tosan Aji Surakarta. Ki Haji Pauzan Pusposukadga banyak mendapat bimbingan dari K.R.T. Hardjonagoro (terakhir Panembahan Hardjonagoro) seorang budayawan dan kolektor keris di Surakarta.

Tahun 1982, Ki Haji Pauzan Pusposukadga mulai belajar membuat keris sendiri, dengan membuat besalen di halaman rumahnya di kampung Yasarata kalurahan Purwasari, Surakarta. Dengan modal tekad dan rajin bertanya, keris buatannya makin lama makin baik. Karena kemampuannya itu Ki Haji Pauzan Pusposukadga diangkat menjadi dosen luar biasa di STSI, dan beberapa murid yang menonjol dalam perkerisan (yang kemudian menjadi tokoh yang melahirkan keris enggal (sekarang disebut keris KAMARDIKAN) antara lain Yantono, Subandi, Suyanto dan Bagya Suharyono. Dari keraton Kasunanan Surakarta,empu Pauzan mendapat pangkat Mantri Anom-anom Tosan Aji dengan sebutan Mas Ngabehi Pusposukadgo.

Sekitar tahun 1984 Empu Pauzan membuat pamor kreasi baru yang berdasarkan disain yang dibuat Dietrich Dresser (pelaut dari Jerman). yang memancing perhatian kalangan perkerisan pada masa itu. Pamor itu dinamakan Poleng Wengkon. Kemudian Pauzan menerapkannya pada sebuah keris berdapur Gumbeng. Oleh sesepuh perkerisan Keraton Surakarta, KRT Hardjonagoro waktu itu, karya empu Pauzan berupa keris berdapur ”betok-gumbeng” (keris lurus, berbilah lebar) dengan pamor poleng wengkon itu diserahkan kepada ketua panitia pembangunan kembali Keraton Solo yang terbakar, Menko Surono. Oleh Jenderal Purnawirawan Soerono keris dapur gumbeng berpamor poleng wengkon itu diberi nama Kyai Surengkarya yang artinye pekerja keras atau pekerja tekun.

Setidaknya Empu Pauzan sudah mengerjakan tujuh pesanan keris dengan pamor ”poleng” seperti itu, di antaranya dipesan oleh seorang warga Amerika Serikat bernama William Koh, disamping sejumlah kolektor dari Jakarta. Empu Pauzan juga pernah menciptakan pamor (guratan-guratan di bilah, hasil dari lipatan tempa dari jenis logam berbeda, sehingga menghasilkan guratan motif-motif indah) yang ia namakan ”pamor kalpataru”. Empu Pauzan memiliki beberapa tanda penghargaan antara lain dari Menko Bidang Politik dan Keamanan Jenderal Soerono (1981), dan Seminar PATA. Sejak tahun 1982 Empu Pauzan menjabat sebagai anggota Presidium Pangreh Boworoso Tosan Aji Surakarta.



Empu Pauzan tidak memproduksi keris lagi setelah ”lengsernya” penguasa Orde Baru, Soeharto, menjelang tahun 2000 sempat membabar sebuah keris untuk Joko Widodo, setelah terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan nama Kyai Cahyabuwana, dengan dhapur Pasopati.
Empu Pauzan meninggal dunia pada tahun 2014.

Sumber: MT Arifin, Kamus Keris Advance, Nopember 2014.
(Sadur - edit by Toni Junus Kanjeng NgGung)
Category : Tokoh Keris | By : administrator

05 May 2014   12:09:51 pm
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...

Mungkinkah Ruh si Ronggeng menyelinap pada pusaka Dwisula Padma?


Tombak Dwisula Padma berupa tombak dwisula yang pada poros tengahnya ada relief padma (bunga teratai).

Kisahnya, pada awal tahun 1999, muncul sebilah tombak Dwisula Padma yang dibawa oleh salah seorang sesepuh silat yang berasal dari desa Parigi, Ciamis... untuk dimaharkan kepada orang di Jakarta.

Tombak ini menyimpan misteri yang susah terkuak oleh sebab minimnya notasi dan penemuan benda-benda arkeologis yang ditemukan di Jawa Barat.

Beberapa penggila pusaka sering mencoba untuk menjelajahi pengetahuan tentang pusaka di Jawa Barat... namun selalu menemukan kesulitan kecuali sedikit terang pada pusaka Kujang.

Tombak Dwisula Padma diperkirakan peninggalan jaman Hindu Buddha di Jawa Barat. Letak geografis penemuan di Ciamis sulit untuk dikaitkan dengan salah satu kerajaan. Wilayah Ciamis, seperti halnya Jawa Barat pada umumnya tidak banyak ditemukan candi-candi besar, kecuali prasasti kuno yang diperkirakan dibuat tahun 200-an.

Ciamis pada masa sekarang terkenal dengan seni tontonan “adu anjing dan babi hutan”, sedangkan desa Parigi tempat tinggal sesepuh silat pemahar tombak ini dikenal sebagai tempatnya orang-orang berilmu.

Selain itu di Ciamis terkenal kesenian Ronggeng yang dalam legendanya merupakan tarian penyamaran Dewi Siti Semboja dari trah Kraton Galuh Pakuan Padjajaran yang ingin membalas dendam karena kekasihnya, Raden Anggalarang dibunuh perampok.

Ia dan para pengiringnya menyamar menjadi Peronggeng dan Penabuh Gamelan kemudian berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan hingga ke pelosok-pelosok pegunungan untuk mencari pembunuh kekasihnya itu.

Legenda kesenian Ronggeng di Ciamis yang disebut Ronggeng Gunung dihubungkan dengan ditemukannya bukti arkeologis (1977) berupa reruntuhan candi di Kampung Sukawening, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Kalangan arkeolog menyebutnya Candi Pamarican, namun masyarakat setempat menyebutnya Candi Ronggeng. Di area candi ditemukan Arca Nandi dan batu Kenong berbentuk Gong Kecil yang pada hari-hari tertentu sering terdengar suara gamelan pengiring pertunjukan Ronggeng.


http://www.youtube.com/watch?v=yC1FmhiTzKE
Link Youtube

Suara gamelan Ronggeng itu nyata adanya.... sayup-sayup masih bisa didengar.

Sering pula menyelinap dalam kesyahduannya dan bergoyang membayangi penelusuran jejak tombak Dwisula Padma, yang selalu tenteram dalam ketenangan bunga padma.


Tombak Dwisula Padma dari desa Parigi, Ciamis - Jawa Barat.

Salam,
Kanjeng NgGung Toni Junus.
Category : Album | By : administrator

 
1 2 3 ...29 30 31 Next
Jun 2015 July 2015 Aug 2015
S M T W T F S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Categories
Album[47]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Tokoh Keris[1]
Recent
MENINJAU UPACARA SIDHIKARA PUSAKA
Empu PAUZAN PUSPOSUKADGO
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
Archives
January 2013[3]
July 2011[3]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[10]
May 2010[11]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[92]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter