Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
04 Oct 2011 07:59:41 am
GAGRAK SEBAGAI ISTILAH YANG MULAI POPULER
Dibandingkan pada tahun 1980-an, keris-keris yang kita jumpai sangat terbatas, antara lain umumnya keris tangguh Majapahit dan Mataram. Setelah masa euforia (Indonesia mendapat pengakuan UNESCO), sosialisasi perkerisan semakin semarak. Pameran dan bursa diadakan dimana-mana, keris-keris bermunculan, semakin variatif karena apa yang belum pernah kita lihat mulai bermunculan. Keris penemuan (ditemukan di sungai) mulai terkenal dengan keris Singasari, kini Palembang sungai Musi juga mulai sering ditemukan keris-keris yang spektakuler baik detailnya maupun penggarapannya hingga pada asesorinya, diduga jaman Sriwijaya. Kemudian keris bermuculan di Jawa Barat (Cirebon) sungguh mempesona dengan sarung dan asesori yang sangat kaya model. Kekayaan dhapur rupanya tak terbatas pada yang sudah tertulis di buku-buku yang ada, keris mulai disimpulkan sebagai ’seni rupa’ senjata. Artinya keris-keris yang ada (sepuh) adalah karya yang diciptakan oleh seniman (empu) dengan gaya dan idenya masing-masing.


Area ditemukannya di Banten - dengan hulu keris khas Jawa Barat.


Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram dan Ukiran tanpa Patra.

Kajian-kajian terhadap keris juga terus dilakukan, sehingga melahirkan pengetahuan baru, menambah dan menyempurnakan yang ada, juga merevisi tulisan-tulisan terdahulu. ’Kawruh Padhuwungan’ menjadi semakin kompleks. Jika masa lalu kita terkagum-kagum oleh tulisan GJ. Tammens, W.H. Rassers dengan 'On the Javanese kris', Dr. Isaac Groneman dan penulis lainnya, perkembangan notasi tentang keris kemudian tidak berhenti begitu saja, muncul tulisan ‘The World of The Javanese Kris’ – Garrett Solyom, David Van Duuren dengan ‘An Earthly Approach to a Cosmic Symbol’, kemudian Karsten Sejr Jensen menyusun ‘Kris Disk’.

Ada beberapa hal yang menarik adalah mengenai ”tangguh”. Boleh dikatakan hampir semua penulisan tentang tangguh hanya dilakukan oleh penulis-penulis Indonesia seperti pada buku-buku kuno 'Pakem Katjoerigan’ oleh Tanojo R., ’Ular-ular Panangguhing Dhuwung’ oleh Suranto Atmosaputra, ’Dhuwung Winawas Sakwatawis’ oleh Darmosoegito, ’Pakem pengetahuan tentang Keris’ oleh Kusni, Serat Centhini dan juga penulis seperti Haryono Arumbinang, Bambang Harsrinuksmo.... mereka dengan segala cara menggambarkan tentang tangguh keris dengan kata-kata agar memadai apa yang dimaksud. Saat itulah muncul sebuah kesenangan menentukan tangguh keris. Pengayaan sebutan semakin merebak seperti gagah, wibawa dlsb, sementara apa yang digambarkan dengan kata-kata sering tak bisa ditangkap bentuk visualnya secara tepat, karena karya tulis waktu itu tidak disertakan dokumentasi foto, bahkan tidak melalui research yang serius.

Istilah 'tangguh' bisa disimpulkan artinya adalah ’perkiraan jaman pembuatan’ yang ditentukan dari bentuk keris, dimana bentuk keris itu mempunyai ciri-khas gaya (characteristic style) tertentu sesuai jamannya. Pemahaman ini telah dirintis oleh para sesepuh keris masa lalu, seiring dengan penulisan pada buku-buku yang ada. Kemudian pula, dalam komunikasi para penggemar keris ciri-khas gaya perwujudan seutuhnya (keris bersama warangkanya) diistilahkan dengan kata ”gagrak”, yang kemudian entah dari mana pemahaman itu hadir menjadi sangat kental pengertian ’gagrak’ adalah gaya dari perwujudan seutuhnya sesuai jaman kerajaan atau kedaerahannya. Gagrak dalam bahasa Jawa artinya tampan, gagah.... mungkin korelasinya dengan istilah gagrak keris adalah ”postur” atau ”dedeg”. Artinya melihat dedegnya bisa ditentukan gagrak keris itu adalah Hamengku Buwanan, Pakubuwanan, Luar Jawaan, atau Balian... dst (?). Walaupun mungkin bilahnya adalah tangguh Majapahit atau Mataram. Istilah 'gagrak' lebih dititik beratkan pada aliran jenis warangka dan keharmonisan antara warangka dengan hulu kerisnya.


Ditemukan di area Mataram - dengan warangka original Mataram yang patah dan Ukiran tanpa Patra.

Kesepakatan ’tangguh’ memang terasa riskan, oleh sebab tuntutan agar 'tangguh' lebih dapat 'dipastikan' atau bukan hanya 'perkiraan'. Seolah nilai 'kebenaran ilmiah' menuntut 'tangguh' menjadi kajian akademik terutama pada rintisan ”kerisologi”. Sedangkan yang berkembang dengan istilah 'gagrak' tampaknya lebih menuju simplifikasi (penyederhanaan) demi kesenangan bersama, atau demi perdagangan (barang antiq), sehingga selain istilah 'tangguh' , mulai populer istilah 'gagrak' yang kini menjadi sebuah kerangka pengelompokan. Misalnya yang disebut 'gagrak Surakarta', 'gagrak Ngayogjakarta', 'gagrak Jawa Timuran - Madura', tentu akan menimbulkan pertanyaan pula 'gagrak Majapahitan', 'gagrak Pajang', 'gagrak Mataram' dlsb, itu yang bagaimana...? Sementara kita tak pernah mengetahui yang sebenar-benarnya...

Berbeda dengan Karsten dalam ’Kris Disk’ lebih suka menulis secara jujur (ilmiah) tanpa menyebut 'tangguh' pada setiap foto kerisnya dengan keterangan asal-muasalnya sesuai letak geografis dimana ditemukannya. Dilema tentang ”tangguh” memang masih perlu direnungkan dan ditinjau kembali. Sementara pembiasaan menyebut 'gagrak' juga sangat memungkinkan memunculkan perdebatan. Apakah generasi mendatang cukup bisa menerima begitu saja (?). Sementara itu kesenangan atau hobby untuk menentukan 'tangguh' dan menerima pemahaman 'gagrak' telah bersahabat secara alamiah oleh komunitas penggemar keris di Indonesia, menjadi sebuah ’dinamika’ yang pada nantinya akan dituntut pula ’keilmiahannya’... (TJ).


Ditemukan di area Cirebon, bilahnya menurut beberapa penangguh dianggap tangguh Mataram Amangkurat, sementara beberapa penanguh yang berkecimpung dengan keris Cirebon menyebut tangguh Cirebon.
Category : Kajian | Posted By : administrator
Sep 2014 October 2014 Nov 2014
S M T W T F S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  
Categories
Album[47]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
GOTONG ROYONG JOKOWI
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
Archives
January 2013[3]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[10]
May 2010[11]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[91]
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter