Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
02 Feb 2014   11:21:49 pm
KERIS DALAM REFLEKSI
bersama Toni Junus Kanjeng ngGung.



atau klik langsung YouTube : https://www.youtube.com/watch?v=eVqiaSlp4zE


Salam Budaya,

Saya, TONI JUNUS Kanjeng NgGung ... ingin menyapa seluruh penggemar keris, komunitas pelestari keris, dan para pegiat paguyuban keris di seluruh nusantara.
Pada kesempatan ini saya ingin berbicara tentang refleksi dan perjalanan pelestarian budaya perkerisan, dalam video clip yang saya beri judul “Keris dalam REFLEKSI”.

Perjalanan panjang telah kita lalui .... pada tahun 1996, di Bentara Budaya Jakarta .... telah dimulai dengan memperkenalkan secara terbuka bahwa keris masih diciptakan hingga masa sekarang, kemudian 2006, lomba membentuk keris tingkat nasional digelar.

Kemudian pada Agustus 2008 di Bentara Budaya Jakarta ... istilah Keris Kamardikan diproklamasikan istilah Keris Kamardikan dalam pameran Keris Kamardikan Award.

Kamardikan berasal dari kata mahardika atau merdeka, istilah ‘Keris Kamardikan’ itu disepakati sebagai penyebutan pada keris-keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka artinya keris yang dibuat setelah kerajaan-kerajaan bersatu dalam NKRI..... Makna lain istilah ‘Keris Kamardikan’ adalah bahwa, penciptaan keris yang berdasar pada kebebasan ide dan dengan konsep-konsep modern yang merdeka oleh para senimannya.

Kegiatan pelestarian keris hingga saat ini telah berjalan sesuai dengan strategi yang sederhana dan efektif yaitu:
1. Konservasi.... 2. Revitalisasi dan 3. Sosialisasi.
Konservasi terhadap artefak budaya berupa keris atau keris sepuh telah dilakukan oleh penggemar keris, kolektor, museum dan juga banyak buku-buku tentang merawat keris, banyak dilakukan diskusi, sarasehan yang sering pula dipublikasikan melalui website dan oleh para facebokers.
Langkah 2.... Revitalisasi, merupakan kelanjutan ‘memposisikan kembali’ prosesi pembuatan keris secara tradisional dan juga ‘memposisikan kembali’ makna keris sebagai benda budaya secara utuh..... tanpa pendangkalan, sehingga generasi cucu kita nanti tetap dapat mempelajari... Tulisan-tulisan atau kajian-kajian yang sanggup mengutarakan keris apa adanya, holistik dari segala anglenya diharapkan bisa memperkaya pemahaman terhadap keris.

Dalam hal ini saya tertantang dan kemudian melakukan penelitian untuk menerbitkan buku berjudul Tafsir Keris, sudah tentu buku ini masih perlu penyempurnaan, baik terhadap kajian mistik, tradisi dan filosofi, maupun tata laku prosesi saat pembuatan keris secara lebih mendalam lagi.

Kemudian pada perjalanan yang menggembirakan adalah bahwa ... Strategi ke 3. Sosialisasi, telah dilaksanakan pameran-pameran baik di daerah, Kabupaten maupun kota-kota tidak hanya di Jawa melainkan juga seperti di Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Lombok.
Selain mengadakan pameran-pameran, strategi Sosialisasi adalah seperti apa yang diutarakan pak Buntje Harbunangin saat beliau masih di KemenBudPar (sebelum berubah menjadi KemenParekraf), antara lain :
1. Perkerisan perlu “penokohan”, dan hal ini telah terlaksana dengan baik pada acara Anugerah Hadiwidjojo 2012 (Komunitas Keris Paji Nusantara bekerjasama dengan KemenDikBud) di Museum Nasional Jakarta,
2. Perlunya mendirikan monumen di setiap kota, berbentuk tugu keris atau design modern dimana tentu perlu kerja sama dengan pemerintah daerah masing-masing, cukup minta space, dengan gotong-royong bisa dibangun tugu atau monumen itu.
Seorang aktivis, bernama Dr. Bambang Gunawan malah mengemas ‘edukasi keris’ dengan mendirikan museum kecil Padepokan Brojobuwana, yang dimotori Basuki Teguh Yuwono, seorang yang produktif dari sejak Museum Pusaka Taman Mini menggelar demo-demo pembuatan keris...
Teman-teman Paguyuban Kendali Rangah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Pemerintah Kota di Pekalongan mendirikan Museum Keris ‘Graha Tosan Aji’.
Teman-teman aktivis di Solo, diketuai Empu Daliman, dalam wadah paguyuban Brotosuro bekerja sama dengan Pemerintah Kota juga sedang mempersiapkan pembangunan Museum Keris.
...... selain penokohan dan Monumen (tidak harus Museum)... yang ketiga yang tak kalah penting adalah perlunya Hari Keris Nasional (HKN).

Menentukan hari keris Nasional ini, memang krusial tetapi bisa dilakukan dengan duduk bersama mengkaji pendapat-pendapat yang muncul baru diusulkan kepada pemerintah.
Sebetulnya ada 3 pilihan.... Yang cukup bisa dibicarakan bersama.
Saya katakan krusial karena apa?
1. HKN ditentukan dari kajian sejarah dan archeologi bekerjasama dengan para ahli dibidang itu, dimana dalam hal ini sebetulnya banyak dari mereka (para ahli) yang goodwill dan mau membantunya, hanya saja kesepakatan paguyuban-paguyuban seluruh nusantara untuk memulainya.
2. HKN sesuai tanggal piagam UNESCO, ini juga bagus. Tetapi perlu kita kaji ulang, melihat pada Hari Batik Nasional yang ditentukan saat penghargaan UNESCO.... sepi-sepi aja ...nggak jalan, karena mereka (masyarakat Batik) sensitif dengan hal–hal berbau asing. Nah ini juga perlu dipikirkan.
3. HKN ditentukan pada tanggal Kongres I Keris (SNKI) di Solo, juga bagus...

Kegiatan pelestarian keris, mungkin .... kemasannya tidak memerlukan lagi semangat ke-UNESCO-annya...
saya lebih suka membuat istilah baru yaitu ‘semangat Sabdo Palon ‘... hehehe....

Artinya....apa ???

Kita bisa menghargai budaya kita sendiri dan dimulai dari diri kita sendiri?
Dalam pengamatan saya, dinamika para pencinta keris ini lahir dari semangat “Merah Putih” .... kesadaran melestarikan budaya milik sendiri!
Kesadaran seperti ini telah ada sebagai indikasi yaitu saat Panji Nusantara dibentuk. Panji Nusantra didirikan oleh inisyatif beberapa orang seperti Omar Halim, Andrianto, Budiarto Danujaya, Guntur Setyanto dan 50 orang lainnya ....faunding fathers... ada 54 tercatat dalam Profil AD-ARTnya.

Bahwasanya akhirnya terjadi seleksi alam di dalam tubuh Panji Nusantara itu adalah hal yang wajar.

Kesadaran untuk melestarikan keris adalah merupakan pemahaman pada kebudayaan, bahwa dalam kearifannya, kebudayaan memiliki nilai-nilai positif untuk bertoleransi, pluralisme, kebhinekaan dan didasari ketakwaan terhadap Sang Hyang Tunggal... Awalnya adalah budaya spiritual yang terekspresikan dalam keimanan dan ketaqwaan yang essensial dalam kehidupan manusia.... Keris selalu bersinggungan dengan budaya spiritual, dan nilai KeTuhanannya merupakan suatu hal yang menjadi dasar negara kita... Garuda yang didadanya membawa Pancasila.
Terjadinya dekadensi moral bangsa kita sekarang ini karena mulai tercerabutnya nilai luhur dari akar budaya kita?
INI PENTING UNTUK INTROSPEKSI!

Keris yang memiliki falsafah, simbol-simbol dan nilai-nilai luhurnya.... semoga bisa menjadi pelita ‘pencerahan baru’ bagi ketahanan Nasional.

Pegiat pelestari keris dari Bali, Sulawesi, Sumatera, Jawa Timur seperti Madiun, Blitar, Pare, Kediri, Banyuwangi, Surabaya... juga Jawa Tengah dengan Kertabrata yang menghimpun pelestari keris dari Semarang, Solo, Kendal, Kudus, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Cirebon yang berkibar sendiri... hingga ke Cilacap, Purwokerto .... begitu pula dengan Jogya, Magelang .... mereka semua disemangati oleh jiwa yang loyalis terhadap kesadaran ‘jati diri’ akan pentingnya budaya keris dilestarikan....., jiwanya - jiwa “Merah Putih....”.

Begitu pula ... Komunitas Panji Nusantara terus bergelora, dalam segala kesempatan .... dan dengan tekad bersama, keyakinan dan percaya adanya “tuntunan Gusti Yang Maha Kuasa....”.
Saya tentu harus berterima kasih kepada lingkungan saya yang telah bahu-membahu dalam menggerakkan ‘kegiatan demi kegiatan .... perkerisan’.

Saya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada teman saya yang selalu mendampingi saya dengan kerja kerasnya yaitu Soegeng Prasetyo dan teman-teman Panji Nusantara, seperti Tommy Matahari Malam, Widyastuti, Atieq Wiguna, Sri Munafri, Antonius, Emilia, Widyastuti, Lia Kusumawardhani, Sukamto, Ir. Musbar, juga pelestari keris Kamardikan yang kreatif seperti Ferry Febrianto, Frits Sindu, Whisnu Wardhana, Raden Prasena, dan banyak nama yang tidak bisa saya sebutkan...

Juga mereka semua, para pedagang “pebakul keris” yang merupakan garda depan pelestari keris... mereka punya andil yang besar...

Seperti terlaksananya pameran Keris For The World – 2010 (bersama KemenBudPar).... pameran “Kebangkitan Kembali Kejayaan Keris Indonesia dan Anugerah Hadiwidjojo I (bersama Kemendikbud) 2012....

Marilah, kita pegiat pelestari keris ... berdoa.... negara yang di tahun 2014 ini disibukkan dengan perhelatan politik, semoga ditengah-tengahnya, perkerisan tetap bergaung dan tetap ada kegiatan .... dipenuhi berkah Gusti Yang Maha Kuasa....

Rahayu....

-
Category : Album | Posted By : administrator

23 Dec 2013   07:37:10 pm
KERIS di MUSEUM WAYANG


http://www.youtube.com/watch?v=KM1w7XIgy-4

Dalam sebuah perbincangan beberapa tahun lalu saat opening pameran Kris For The World, Toni Junus, pemerhati keris nusantara, dibuat tertegun oleh pertanyaan dari seorang Direktur UNESCO Jakarta Office, Hubert J. Gijzen. "Kenapa orang Indonesia tidak berani berterus terang soal keris?" tanya Hubert.

Sebagai orang asing yang bekerja di Indonesia dan mengagumi budaya Indonesia, Hubert melihat keris lebih dari sekedar senjata. Di balik sebilah keris tersimpan rentetan perjalanan panjang bangsa Indonesia terkait spiritualitas, etos kerja yang kuat, kebersamaan, harapan, tradisi serta filosofi hidup yang dituangkan dalam simbol-simbol ataupun ritual-ritual pada prosesi pembuatan keris.
Seiring perkembangan zaman, makna dibalik sebilah keris semakin terkikis, dicoba dihilangkan, dengan alasan dan tujuan agar keris yang sudah diakui sebagai masterpiece of intangible heritage oleh UNESCO itu bisa ditawarkan untuk merasuk ke kehidupan generasi muda, para generasi digital yang saat ini semakin jauh dari aspek spiritualisme.

"Keris lalu dipandang sebagai karya seni rupa semata tanpa menyertakan kembali aspek-aspek spritualitas. Padahal pada keris melekat budaya spiritual sebagai intangible heritage. Hal ini merupakan kearifan lokal yang harus dirawat dan dijaga. Budaya keris semestinya dibaca dari kaca mata kebudayaan bukan dari kaca mata agama", kata Toni dari Komunitas Panji Nusantara, sebuah komunitas para pemerhati, kolektor keris, seniman keris dan pedagang keris dari seluruh Indonesia.

Upaya untuk menjauhkan citra keris dari hal berbau mistik itulah yang justru membuat keris menjadi kehilangan aspek filosofisnya serta menghilangkan kearifan lokal yang ada di balik keris. Keris menjadi semata-mata sebuah senjata yang kering makna.

"Kalau orang asing saja bisa melihat keris secara holistik, tanpa menghilangkan aspek spiritualisme, kenapa kita justru ingin mendangkalkan keris dan menghilangkan kearifan lokal yang ada?", kata Toni.

Berangkat dari pemikiran tersebut, komunitas Panji Nusantara bekerja sama dengan Museum Wayang mengadakan pemutaran film semi dokumenter dan diskusi buku karya Toni Junus berjudul Kris: an Interpretation atau Tafsir Keris.

Acara tersebut diadakan pada hari : Sabtu, 21 Desember 2013, pukul 10.00 WIB
Lokasi : Museum Wayang, kawasan Kota Tua, Jakarta Pusat.

Komunitas Panji Nusantara menggelar Kerismart, pameran keris yang diikuti 12 pedagang dari Jakarta, Solo, Malang, Pekalongan, Yogyakarta, dan lain-lain.


Dikutip dan diedit dari Press release.
Cp media:
Utami - Kandil Syndicate.


KLIK BERITA :

http://m.bisniswisata.co/page/category/?page=7&id=5096

http://www.paradiso.co.id/memahami-nilai-luhur-keris-lewat-film-dan-buku.html

-
Category : Album | Posted By : administrator

17 Dec 2013   05:20:47 am
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
JIKA BERKENAN dan PUNYA WAKTU..... Yuk, silaturahmi......
Monggo mampir ketemuan dan saling sapa menyapa....
Sambil pula niliki para pebursa....
Ada acara nonton film TAFSIR KERIS.
Gratis.... berikut ini UNDANGANnyaaa...
Salam Budaya.

Category : Album | Posted By : administrator

 
1 2 3 ...13 14 15 Next
Mar 2014 April 2014 May 2014
S M T W T F S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30    
Categories
Album[45]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
KANJENG KYAHI PAKSINEBAR
MENGGELORAKAN KERIS DENGAN CARA LAIN
Archives
January 2013[3]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[9]
May 2010[10]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[89]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter