Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
02 Jul 2015   07:14:53 am
MENINJAU UPACARA SIDHIKARA PUSAKA
Panji Nusantara, 14 Pebruari 2006 – Museum Pusaka Taman Mini Indonesia Indah.


Orps merupakan tangkapan fotografis dari adanya enerji (ether) - Upacara Sidikara 16 Pebruari 2006.


Tinjauan Ilmiah Kebudayaan

Makna Sidhikara :
Kata Sidhikara, dalam kamus Bausastra Jawa – Indonesia yang disusun oleh : S. Prawiroatmodjo berarti memanterai.

Memanterai berasal dari kata mantera atau mantra.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mantra adalah perkataan ucapan yang memiliki kekuatan gaib.

Makna Mantera sebagai berikut ;

Bentuk kesusastraan yang paling tua adalah mantera, sering juga disebut serapah. Kesusastraan berbentuk puisi ini merupakan sastra lisan, diturunkan dari mulut ke mulut yang hanya dikuasai oleh seorang dukun (pawang). Pawanglah yang boleh mengucapkan mantera karena mantera tidak boleh diucapkan disembarang tempat. Hal ini disebabkan mantera memiliki magi bahasa, memiliki kekuatan gaib. Dalam pengucapannya pun biasanya disertai dengan upacara ritual menggunakan dupa, senjata atau keris dengan ekspresi yang penuh bahkan sampai trance, sehingga tercapai maksudnya. (Diro Aritonang dalam Koran Pikiran Rakyat).

Mantera menurut kajian Toni Junus Kanjeng NgGung (film Tafsir Keris) adalah susunan kalimat hasil olah rasa melalui proses spiritualnya manusia. Setiap kelompok manusia atau suku bangsa sejak jaman dahulu kala memiliki mantera tersendiri termasuk suku-suku di Nusantara (orang Jawa). Mantera diucapkan berulang-ulang bahkan sudah dari abad ke-abad sehingga seolah terjadi perjanjian dengan alam semesta, maka dari itu mantera memiliki kekuatan yang dahsyat.

Manusia secara alamiah sering mengekspresikan sebuah kehendak yang disertai dengan memanfaatkan hasil alam untuk masuk kepada sebuah perjanjian itu (dalam mantera), istilah modernnya adalah membuat password (atau pin) dengan bentuk sesaji dan tingkah laku (patrap). Seperti pula pada sebilah keris buatan jaman dahulu, dari awal sudah dipersiapkan metode kerjanya secara matang dengan ritual sebagai pendukung. Maka pada tataran persiapan hingga penyepuhan (finishing) seorang empu membacakan mantera-mantera dan menggelar sesaji.

Permasalahan :
Pada era modern seperti sekarang ini kemajuan tehnologi informatika, komunikasi dan bidang transportasi sedemikian canggih. Kecepatan mobilitas dan komunikasi membawa pengaruh budaya luar yang mempengaruhi budaya setempat, budaya-budaya luar (asing) itu mendesak budaya tradisional. Celakanya, budaya asing teradopsi secara mentah sehingga masyarakat hanya menangkap simbol-simbol duniawi (barang, materi) tanpa mengadaptasikan secara cerdas nilai-nilai dan perilaku yang esensial.

Ritual-ritual dan upacara yang berkaitan dengan tosan aji (keris) walaupun masih dilangsungkan dibeberapa tempat mulai tergeser pula. Kemudian makna dan esensinya tidak lagi dimengerti dan bahkan dinafikkan, padahal tradisi tersebut merupakan warisan budaya luhur. Sementara ilmu jiwa di barat dan ahli-ahli metafisika merambah menggeluti peradaban yang sebenarnya sudah pernah kita miliki atau sudah kita lampaui.

Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan Panji Nusantara melaksanakan Sidhikara Pusaka adalah :
1. Menampilkan tradisi isoteristik yang langka untuk dokumentasi kebudayaan dalam lingkup perkerisan.
2. Sidhikara pusaka yang merupakan tradisi ruwatan yang hanya dikenal sebagian dari kalangan masyarakat pecinta tosan aji, jika pada mulanya hanya dilaksanakan di dalam kraton (secara tertutup), maka dicoba tampil secara terbuka untuk apresiasi dan menghindarkan kepunahan, mengingatkan adanya catatan atau manuskrip budaya.

Landasan historis setara dengan Upacara Sidhikara Pusaka
Nilai-nilai ruwatan atau hal-hal lain (kajian artefak) yang setara dengan tradisi Sidhikara Pusaka sudah berlangsung di Indonesia mulai dari jaman pra sejarah hingga sekarang.

Pada tradisi megalitik atau pra sejarah, di daerah Kalimantan terdapat Batu Bergores yang biasanya oleh masyarakat setempat disebut dengan Batu Babi, karena pada bagian badan batu tersebut terdapat goresan bekas asahan. Batu Babi ini oleh masyarakat setempat digunakan ritual karena dianggap keramat dan mempunyai kekuatan gaib.
Hal yang sama juga terdapat pada situs Batu Bergores dari Panggung Harjo, Lampung Tengah, dimana terdapat 3 goresan berbentuk asahan benda tajam sebagai akibat tradisi/ritual dan mengasah benda tajam untuk suatu keperluan bagi masyarakat. (Haris Sukendar, Kebudayaan No. 13 Th VII/97-98.

Pada kerajaan Mataram yang bercorak Islam oleh Sultan Agung upacara berbau hindu diubah dengan nuansa ke-Islaman, maka kita kenal adanya Gerebeg Maulud dan Gerebeg Dal. (Depdiknas, 1989-1990).

Pada tradisi kraton di Jawa seperti di Kasunanan, Mangkunegaran, Kasultanan dan Paku Alam, nilai-nilai tradisi Sidhikara Pusaka masih dilaksanakan di Kasunanan dan Mangkunegaran yang melakukan kirab pusaka pada menjelang malam 1 Syuro yaitu Tahun Baru Jawa yang pada jaman Sultan Agung dikurunkan sama dengan 1 Muharram tahun Hijriah. (disebutkan dalam satu lirik mantra Sastra Gending).

Kirab pusaka, intinya bukan pamer senjata kuno, akan tetapi cara memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung akan rahmatNya untuk mendapatkan Sih Welasaning Pangeran Ingkang Maha Wikan agar daya magis, daya prabawa pusaka-pusaka yang dikirabkan membawa keselamatan, kesejahteraan dan keberkahan bagi kraton Surakarta dan Negara Indonesia se-isinya. (KRMH. Surjandjari Puspaningrat SH, Cendrawasih – Surakarta 1996).


Sesaji komplit pada upacara-upacara besar

21 Januari 2006,
Lit.Bang Paguyuban Panji Nusantara
Narasumber lisan : KPH. Darudriyo Sumodiningrat.
Disusun oleh : Toni Junus Kanjeng NgGung.

DaftarPustaka :
1. Aritonang, Diro, Pikiran Rakyat, Bandung 2000.
2. Depdiknas, Perangkat/alat-alat dan pakaian serta makna simbolik upacara keagamaan di lingkungan kraton Jogyakarta 1989-1990.
3. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 10, PT. Cipta Adi Pustaka, Jakarta 1990.
4. Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi : Dalam masyarakat Jawa, Pustaka Jaya 1989.
5. Jabar, Hasan, Beberapa catatan mengenai keagamaan pada masa Majapahit Akhir, pertemuan ilmiah arkeologi IV th 1986, Puslit Arkenas.
6. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Depdiknas 2003.
10. Moedjanto,G, Suksesi dalam sejarah Jawa, Sanata Dharma, Jogyakarta 2002.
11. Murtadho, M, Islam Jawa : Keluar dari kemelut santri vs abangan, Pustaka Umum 2002.
12. Prawiroatmodjo, R, Kamus Bausastra Jawa – Indonesia.
13. Sukendar, Haris, Batu bergores sebagai simbol religius, Kebudayaan No. 13 Th VII 1997/1998.

Category : Album | Posted By : administrator

05 May 2014   12:09:51 pm
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...

Mungkinkah Ruh si Ronggeng menyelinap pada pusaka Dwisula Padma?


Tombak Dwisula Padma berupa tombak dwisula yang pada poros tengahnya ada relief padma (bunga teratai).

Kisahnya, pada awal tahun 1999, muncul sebilah tombak Dwisula Padma yang dibawa oleh salah seorang sesepuh silat yang berasal dari desa Parigi, Ciamis... untuk dimaharkan kepada orang di Jakarta.

Tombak ini menyimpan misteri yang susah terkuak oleh sebab minimnya notasi dan penemuan benda-benda arkeologis yang ditemukan di Jawa Barat.

Beberapa penggila pusaka sering mencoba untuk menjelajahi pengetahuan tentang pusaka di Jawa Barat... namun selalu menemukan kesulitan kecuali sedikit terang pada pusaka Kujang.

Tombak Dwisula Padma diperkirakan peninggalan jaman Hindu Buddha di Jawa Barat. Letak geografis penemuan di Ciamis sulit untuk dikaitkan dengan salah satu kerajaan. Wilayah Ciamis, seperti halnya Jawa Barat pada umumnya tidak banyak ditemukan candi-candi besar, kecuali prasasti kuno yang diperkirakan dibuat tahun 200-an.

Ciamis pada masa sekarang terkenal dengan seni tontonan “adu anjing dan babi hutan”, sedangkan desa Parigi tempat tinggal sesepuh silat pemahar tombak ini dikenal sebagai tempatnya orang-orang berilmu.

Selain itu di Ciamis terkenal kesenian Ronggeng yang dalam legendanya merupakan tarian penyamaran Dewi Siti Semboja dari trah Kraton Galuh Pakuan Padjajaran yang ingin membalas dendam karena kekasihnya, Raden Anggalarang dibunuh perampok.

Ia dan para pengiringnya menyamar menjadi Peronggeng dan Penabuh Gamelan kemudian berkeliling ke seluruh wilayah kerajaan hingga ke pelosok-pelosok pegunungan untuk mencari pembunuh kekasihnya itu.

Legenda kesenian Ronggeng di Ciamis yang disebut Ronggeng Gunung dihubungkan dengan ditemukannya bukti arkeologis (1977) berupa reruntuhan candi di Kampung Sukawening, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Kalangan arkeolog menyebutnya Candi Pamarican, namun masyarakat setempat menyebutnya Candi Ronggeng. Di area candi ditemukan Arca Nandi dan batu Kenong berbentuk Gong Kecil yang pada hari-hari tertentu sering terdengar suara gamelan pengiring pertunjukan Ronggeng.


http://www.youtube.com/watch?v=yC1FmhiTzKE
Link Youtube

Suara gamelan Ronggeng itu nyata adanya.... sayup-sayup masih bisa didengar.

Sering pula menyelinap dalam kesyahduannya dan bergoyang membayangi penelusuran jejak tombak Dwisula Padma, yang selalu tenteram dalam ketenangan bunga padma.


Tombak Dwisula Padma dari desa Parigi, Ciamis - Jawa Barat.

Salam,
Kanjeng NgGung Toni Junus.
Category : Album | Posted By : administrator

02 Feb 2014   11:21:49 pm
KERIS DALAM REFLEKSI
bersama Toni Junus Kanjeng ngGung.



atau klik langsung YouTube : https://www.youtube.com/watch?v=eVqiaSlp4zE


Salam Budaya,

Saya, TONI JUNUS Kanjeng NgGung ... ingin menyapa seluruh penggemar keris, komunitas pelestari keris, dan para pegiat paguyuban keris di seluruh nusantara.
Pada kesempatan ini saya ingin berbicara tentang refleksi dan perjalanan pelestarian budaya perkerisan, dalam video clip yang saya beri judul “Keris dalam REFLEKSI”.

Perjalanan panjang telah kita lalui .... pada tahun 1996, di Bentara Budaya Jakarta .... telah dimulai dengan memperkenalkan secara terbuka bahwa keris masih diciptakan hingga masa sekarang, kemudian 2006, lomba membentuk keris tingkat nasional digelar.

Kemudian pada Agustus 2008 di Bentara Budaya Jakarta ... istilah Keris Kamardikan diproklamasikan istilah Keris Kamardikan dalam pameran Keris Kamardikan Award.

Kamardikan berasal dari kata mahardika atau merdeka, istilah ‘Keris Kamardikan’ itu disepakati sebagai penyebutan pada keris-keris yang diciptakan setelah Indonesia merdeka artinya keris yang dibuat setelah kerajaan-kerajaan bersatu dalam NKRI..... Makna lain istilah ‘Keris Kamardikan’ adalah bahwa, penciptaan keris yang berdasar pada kebebasan ide dan dengan konsep-konsep modern yang merdeka oleh para senimannya.

Kegiatan pelestarian keris hingga saat ini telah berjalan sesuai dengan strategi yang sederhana dan efektif yaitu:
1. Konservasi.... 2. Revitalisasi dan 3. Sosialisasi.
Konservasi terhadap artefak budaya berupa keris atau keris sepuh telah dilakukan oleh penggemar keris, kolektor, museum dan juga banyak buku-buku tentang merawat keris, banyak dilakukan diskusi, sarasehan yang sering pula dipublikasikan melalui website dan oleh para facebokers.
Langkah 2.... Revitalisasi, merupakan kelanjutan ‘memposisikan kembali’ prosesi pembuatan keris secara tradisional dan juga ‘memposisikan kembali’ makna keris sebagai benda budaya secara utuh..... tanpa pendangkalan, sehingga generasi cucu kita nanti tetap dapat mempelajari... Tulisan-tulisan atau kajian-kajian yang sanggup mengutarakan keris apa adanya, holistik dari segala anglenya diharapkan bisa memperkaya pemahaman terhadap keris.

Dalam hal ini saya tertantang dan kemudian melakukan penelitian untuk menerbitkan buku berjudul Tafsir Keris, sudah tentu buku ini masih perlu penyempurnaan, baik terhadap kajian mistik, tradisi dan filosofi, maupun tata laku prosesi saat pembuatan keris secara lebih mendalam lagi.

Kemudian pada perjalanan yang menggembirakan adalah bahwa ... Strategi ke 3. Sosialisasi, telah dilaksanakan pameran-pameran baik di daerah, Kabupaten maupun kota-kota tidak hanya di Jawa melainkan juga seperti di Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Lombok.
Selain mengadakan pameran-pameran, strategi Sosialisasi adalah seperti apa yang diutarakan pak Buntje Harbunangin saat beliau masih di KemenBudPar (sebelum berubah menjadi KemenParekraf), antara lain :
1. Perkerisan perlu “penokohan”, dan hal ini telah terlaksana dengan baik pada acara Anugerah Hadiwidjojo 2012 (Komunitas Keris Paji Nusantara bekerjasama dengan KemenDikBud) di Museum Nasional Jakarta,
2. Perlunya mendirikan monumen di setiap kota, berbentuk tugu keris atau design modern dimana tentu perlu kerja sama dengan pemerintah daerah masing-masing, cukup minta space, dengan gotong-royong bisa dibangun tugu atau monumen itu.
Seorang aktivis, bernama Dr. Bambang Gunawan malah mengemas ‘edukasi keris’ dengan mendirikan museum kecil Padepokan Brojobuwana, yang dimotori Basuki Teguh Yuwono, seorang yang produktif dari sejak Museum Pusaka Taman Mini menggelar demo-demo pembuatan keris...
Teman-teman Paguyuban Kendali Rangah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Pemerintah Kota di Pekalongan mendirikan Museum Keris ‘Graha Tosan Aji’.
Teman-teman aktivis di Solo, diketuai Empu Daliman, dalam wadah paguyuban Brotosuro bekerja sama dengan Pemerintah Kota juga sedang mempersiapkan pembangunan Museum Keris.
...... selain penokohan dan Monumen (tidak harus Museum)... yang ketiga yang tak kalah penting adalah perlunya Hari Keris Nasional (HKN).

Menentukan hari keris Nasional ini, memang krusial tetapi bisa dilakukan dengan duduk bersama mengkaji pendapat-pendapat yang muncul baru diusulkan kepada pemerintah.
Sebetulnya ada 3 pilihan.... Yang cukup bisa dibicarakan bersama.
Saya katakan krusial karena apa?
1. HKN ditentukan dari kajian sejarah dan archeologi bekerjasama dengan para ahli dibidang itu, dimana dalam hal ini sebetulnya banyak dari mereka (para ahli) yang goodwill dan mau membantunya, hanya saja kesepakatan paguyuban-paguyuban seluruh nusantara untuk memulainya.
2. HKN sesuai tanggal piagam UNESCO, ini juga bagus. Tetapi perlu kita kaji ulang, melihat pada Hari Batik Nasional yang ditentukan saat penghargaan UNESCO.... sepi-sepi aja ...nggak jalan, karena mereka (masyarakat Batik) sensitif dengan hal–hal berbau asing. Nah ini juga perlu dipikirkan.
3. HKN ditentukan pada tanggal Kongres I Keris (SNKI) di Solo, juga bagus...

Kegiatan pelestarian keris, mungkin .... kemasannya tidak memerlukan lagi semangat ke-UNESCO-annya...
saya lebih suka membuat istilah baru yaitu ‘semangat Sabdo Palon ‘... hehehe....

Artinya....apa ???

Kita bisa menghargai budaya kita sendiri dan dimulai dari diri kita sendiri?
Dalam pengamatan saya, dinamika para pencinta keris ini lahir dari semangat “Merah Putih” .... kesadaran melestarikan budaya milik sendiri!
Kesadaran seperti ini telah ada sebagai indikasi yaitu saat Panji Nusantara dibentuk. Panji Nusantra didirikan oleh inisyatif beberapa orang seperti Omar Halim, Andrianto, Budiarto Danujaya, Guntur Setyanto dan 50 orang lainnya ....faunding fathers... ada 54 tercatat dalam Profil AD-ARTnya.

Bahwasanya akhirnya terjadi seleksi alam di dalam tubuh Panji Nusantara itu adalah hal yang wajar.

Kesadaran untuk melestarikan keris adalah merupakan pemahaman pada kebudayaan, bahwa dalam kearifannya, kebudayaan memiliki nilai-nilai positif untuk bertoleransi, pluralisme, kebhinekaan dan didasari ketakwaan terhadap Sang Hyang Tunggal... Awalnya adalah budaya spiritual yang terekspresikan dalam keimanan dan ketaqwaan yang essensial dalam kehidupan manusia.... Keris selalu bersinggungan dengan budaya spiritual, dan nilai KeTuhanannya merupakan suatu hal yang menjadi dasar negara kita... Garuda yang didadanya membawa Pancasila.
Terjadinya dekadensi moral bangsa kita sekarang ini karena mulai tercerabutnya nilai luhur dari akar budaya kita?
INI PENTING UNTUK INTROSPEKSI!

Keris yang memiliki falsafah, simbol-simbol dan nilai-nilai luhurnya.... semoga bisa menjadi pelita ‘pencerahan baru’ bagi ketahanan Nasional.

Pegiat pelestari keris dari Bali, Sulawesi, Sumatera, Jawa Timur seperti Madiun, Blitar, Pare, Kediri, Banyuwangi, Surabaya... juga Jawa Tengah dengan Kertabrata yang menghimpun pelestari keris dari Semarang, Solo, Kendal, Kudus, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Cirebon yang berkibar sendiri... hingga ke Cilacap, Purwokerto .... begitu pula dengan Jogya, Magelang .... mereka semua disemangati oleh jiwa yang loyalis terhadap kesadaran ‘jati diri’ akan pentingnya budaya keris dilestarikan....., jiwanya - jiwa “Merah Putih....”.

Begitu pula ... Komunitas Panji Nusantara terus bergelora, dalam segala kesempatan .... dan dengan tekad bersama, keyakinan dan percaya adanya “tuntunan Gusti Yang Maha Kuasa....”.
Saya tentu harus berterima kasih kepada lingkungan saya yang telah bahu-membahu dalam menggerakkan ‘kegiatan demi kegiatan .... perkerisan’.

Saya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada teman saya yang selalu mendampingi saya dengan kerja kerasnya yaitu Soegeng Prasetyo dan teman-teman Panji Nusantara, seperti Tommy Matahari Malam, Widyastuti, Atieq Wiguna, Sri Munafri, Antonius, Emilia, Widyastuti, Lia Kusumawardhani, Sukamto, Ir. Musbar, juga pelestari keris Kamardikan yang kreatif seperti Ferry Febrianto, Frits Sindu, Whisnu Wardhana, Raden Prasena, dan banyak nama yang tidak bisa saya sebutkan...

Juga mereka semua, para pedagang “pebakul keris” yang merupakan garda depan pelestari keris... mereka punya andil yang besar...

Seperti terlaksananya pameran Keris For The World – 2010 (bersama KemenBudPar).... pameran “Kebangkitan Kembali Kejayaan Keris Indonesia dan Anugerah Hadiwidjojo I (bersama Kemendikbud) 2012....

Marilah, kita pegiat pelestari keris ... berdoa.... negara yang di tahun 2014 ini disibukkan dengan perhelatan politik, semoga ditengah-tengahnya, perkerisan tetap bergaung dan tetap ada kegiatan .... dipenuhi berkah Gusti Yang Maha Kuasa....

Rahayu....



-
Category : Album | Posted By : administrator

 
1 2 3 ...14 15 16 Next
Jul 2015 August 2015 Sep 2015
S M T W T F S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31      
Categories
Album[47]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Tokoh Keris[1]
Recent
MENINJAU UPACARA SIDHIKARA PUSAKA
Empu PAUZAN PUSPOSUKADGO
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
Archives
January 2013[3]
July 2011[3]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[10]
May 2010[11]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[92]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter