Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
10 Sep 2011   09:23:29 am
KONSEP KEPEMIMPINAN DALAM JANGKUNG MANGKUNEGARA
Tentang Philosophi Nama Dapur

Oleh: Wawan Wilwatikta

Negara titi tentrem, nagari ingkang panjang punjung pasir wulir loh jinawi gemah ripah karta tur raharja. Negara yang aman tenteram, terkenal karena kewibawaannya, besar dan luas wilayahnya meliputi pegunungan sampai laut, hasil bumi yang melimpah, negara kaya dan rakyat sejahtera. Ungkapan tersebut seringkali kita mendengar dari sang dalang pada saat pementasan wayang kulit. Itulah gambaran keberhasilan kepemimpinan dari seorang raja yang membawa negara menuju kejayaan dan masyarakat yang adil sejahtera. Wujud kepemimpinan seorang pemimpin yang dinantikan bangsa ini sejak lama.



Dhapur Jangkung Mangkurat sering disebut Jangkung Mangkunegoro diperkirakan dibuat jaman Mataram Akhir. (diambil dari Katalog Keris Kamardikan Award '08 dan Majalah Pamor)


Jangkung Mangkunegara merupakan dapur keris Luk 3 (tiga) yang mempunyai 8 (delapan) ricikan, yaitu: Kembang Kacang, Lambe Gajah, Jalen, Pijetan, Tikel Alis, Sraweyan, Dua Sogokan berjajar bertemu di ujung bilah, dan Greneng. Kata Jangkung berarti menuntun, melindungi, mengawasi dan menjaga dari kejauhan, sedangkan Mangkunegara dapat berasal dari kata Mangku dan Negara. Mangku yang diartikan menopang/menyangga sedangkan Negara dapat diartikan bumi, wilayah beserta segala yang hidup dan tumbuh di atasnya. Jangkung Mangkunegara mempunyai arti mengatur dan memerintah negara atau wilayah yang menjadi kekuasaannya. Berdasarkan nama tersebut, tersirat makna simbolik terkait dengan suatu ajaran kepemimpinan.

Kepemimpinan Dalam Budaya Jawa
Dalam konsep kepemimpinan Jawa, kekuasaan bukan diperuntukkan bagi seorang pemimpin, akan tetapi lebih menekankan pada dampak yang baik bagi rakyat dan negara. Sebuah kekuasaan dianggap berhasil apabila negara dalam keadaan tenteram, sejahtera, adil dan rakyat tenang dan puas melaksanakan perkerjaan sehari-hari. Hasil dari kepemimpinan seorang raja diperoleh tanpa tindakan paksa, seolah mengalir dengan sendirinya, atau seolah-olah tanpa usaha yang mencolok. Sehingga, dalam kondisi demikian kekuasaan seorang raja tidak perlu diperlihatkan. Jika tercapai ketenangan sedemikian rupa dalam suatu negara, maka kekuasaan dan kewibawaan seorang pemimpin/raja akan terlihat dengan sendirinya di mata rakyat.
Dalam paham kepemimpinan Jawa, justru penguasa yang baik harus mencegah tindakan kekerasan. Kehalusan dalam bersikap dan berperilaku, antara lain: halus dalam bertutur kata, halus dalam memberi perintah, bersikap sopan terhadap orang lain menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang beradab. Kepemimpinan secara halus menunjukkan bahwa dia dapat mengontrol dirinya secara sempurna dan dengan demikian mempunyai kekuatan batin. Sebaliknya, sikap kasar dinilai rendah, kurang berbudaya, kurang kontrol diri merupakan cermin kelemahan batin. Bersikap kasar dan emosional, justru akan memperlemah kedudukannya sebagai seorang pemimpin.
Bersikap halus bukan berarti tidak tegas, tetapi lebih menekankan kontrol diri terhadap sesuatu permasalahan. Pemimpin seharusnya bersikap tanuhita (mengayomi dan njangkungi), tidak keras hati memaksakan kehendaknya atau bersikap kasar untuk mempertahankan kewibawaannya. Hal demikian, tentunya menuntut suatu pemerintahan yang dijalankan dengan suatu sistem ketatanegaraan dan perundang-undangan yang baik dan kepribadian seorang pemimpin/raja yang penuh suri tauladan. Uraian di atas merupakan penjabaran arti Jangkung dalam sebuah konsep kepemimpinan Jawa.

Makna Dalam Ricikan Jangkung Mangkunegara
Ada 8 (delapan) ricikan pada dapur Jangkung Mangkunegara dengan ulasan makna sebagai berikut:
Kembang Kacang, merupakan simbol untuk selalu tumbuh berkembang. Seorang pemimpin hendaknya berorientasi ke depan dalam menjalankan tugasnya agar sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya akan tumbuh berkembang. Suatu pertumbuhan yang terencana dengan baik. Kembang kacang juga melambangkan sikap optimistik dalam menjalankan kepemimpinan.
Lambe Gajah, merupakan simbol ucapan yang dapat dipercaya. Seorang raja/pemimpin harus teguh memegang janji yang telah diucapkan, sebagaimana sesanti Sabda Pandita Ratu Tan Kena Wola-Wali. Ucapan seorang raja adalah janji, sehingga harus dilaksanakan, tidak boleh dibatalkan atau diingkari. Esuk Dhele Sore Tempe (pagi hari Kedelai, sore hari sudah berubah menjadi Tempe) merupakan ungkapan yang harus dihindari. Ungkapan tersebut menunjukkan tabiat seseorang yang dengan mudahnya merubah sikap perkataanya sekehendak hati, berubah pendirian dalam waktu yang singkat (plin plan). Sikap yang demikian akan mendatangkan kesulitan bagi dirinya maupun orang lain. Sehingga setiap permasalahan hendaknya dipelajari dan dipertimbangkan secara matang dengan segala konsekuensinya, sebelum pengambilan keputusan.
Jalen, dari asal kata Jalu (taji ayam jago) merupakan simbol keberanian. Seorang pemimpin harus berani mengambil risiko setiap keputusan yang diambil. Meskipun tidak populer, asal bertujuan untuk kesejahteraan rakyat, tentunya keputusan terbaik harus diambil. Harus berani bersikap adil terhadap semua lapisan masyarakat, baik terhadap rakyat maupun pejabat, bahkan keluarga sendiri. Keberanian dalam membela kebenaran atau berpijak pada aturan, tanpa pandang bulu. Keyakinan dalam menjalankan kebenaran sesuai ajaran Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, yang berarti kejahatan dan kekerasan akan terkalahkan dengan kehalusan budi, dalam arti tidak harus suatu kekerasan dilawan dengan kekejaman. Dalam hal ini seorang pemimpin harus berani tanpa ragu dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya, kapan dia harus memberikan toleransi dan kapan dia harus bertindak tegas.
Pijetan, melambangkan sikap berlapang hati dan sabar. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai hati sedalam lautan dan seluas samudera. Pertanda seorang pemimpin yang mampu menerima segala aspirasi yang berkembang dimasyarakat dan sabar menerima setiap kritikan terhadap dirinya dan segala nasihat serta saran dari para bawahannya.
Tikel Alis, melambangkan berpenampilan yang baik, roman muka cerah yang menunjukkan keramah tamahan dan senyuman yang menyenangkan bagi orang lain. Menghadapi masalah bagaimanapun sulitnya, harus dihadapi dengan muka manis. Perasaan marah dan tidak suka, harus disembunyikan lewat senyum manis, sebaliknya kemarahan yang meledak-meledak merupakan tindakan yang kurang pantas. Tikel Alis juga melambangkan segala sikap tindakan selalu ada batas-batasnya.
Sogokan rangkap dan Ada-ada sampai ke ujung bilah, melambangkan keharusan bagi seorang pemimpin untuk selalu tekun menggali potensi diri, menuangkan dan mewujudkan gagasan, mengembangkan kreatifitas kearah yang positif. Hal tersebut dilakukan tanpa henti di tengah jalan, guna menuntaskan setiap tujuan.
Sraweyan, melambangkan kemampuan untuk menjaga keselarasan dan beradaptasi. Seorang pemimpin tidaklah dituntut untuk merubah tatanan yang sudah ada dan baik, tetapi justru menjaga agar keselarasan tidak terganggu. Sebagai seorang pemimpin sebaiknya mau belajar hidup ditengah-tengah macam struktur dan keadaan, entah baik atau buruk. Melalui sikap yang mau membaur (ajur-ajer) itu, akan membantu untuk mengetahui setiap permasalahan yang berkembang di masyarakat, sehingga dapat diciptakan keadaan adil dan makmur.
Greneng, merupakan simbol momong rasa atau kemampuan mengendalikan diri. Kemampuan ini merupakan inti kesaktian seorang raja. Pada jaman dahulu, olah rasa sering dicapai dengan cara bertapa atau bersemedi. Sebagaimana laku tapa atau semedi, dalam konteks pengertian modern, bertapa merupakan konsekuensi menjalankan ibadah dan ajaran agamanya secara baik dan benar. Keutamaan dalam laku tersebut yaitu pengendalian diri terhadap keduniawian (sepi ing pamrih) dan kesediaan untuk memenuhi kewajibannya secara bertanggung jawab (rame ing gawe). Seorang pemimpin atau raja akan kehilangan kasekten (kesaktian) jika mengikuti hawa nafsunya dan mengejar kepentingan pribadi/pamrih dan mulai malas bekarya. Pamrih akan melunturkan kekuasaanya, karena pusat pengendalian diri tidak terletak pada batinnya lagi, tetapi pribadinya lebih banyak dipengaruhi unsur-unsur negatif dari luar. Jika kondisi sudah demikian, sebenarnya seorang pemimpin/raja sudah mulai kehilangan kesaktiannya. Selain itu sering menyertakan Pudak Setegal sebagai lambang dari kokohnya kepemimpinan.

Tiga Konsep Kepemimpinan
Konsep kepemimpinan Jawa dapat dijabarkan dalam beberapa ajaran yang terkait dengan makna dalam setiap ricikan keris dapur Jangkung Mangkunegara.

Menurut ajaran Sastra Jendra Hayuningrat, sosok pemimpin yang ideal hendaknya memiliki kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Hal tersebut telah lama tersurat dalam ilmu Sastra Jendra Hayuningrat, yang antara lain memuat kriteria bagi seorang pemimpin: 1. Kawruh tan wonten malih, artinya selalu mengembangan diri dengan menuntut ilmu pengetahuan yang nyata (ilmiah), 2. Pangruwating barang sakalir, artinya selalu berusaha membebaskan diri dari segala nafsu angkara murka, 3. Ngelmu wewadining bumi kang sinengker hyang jagad pratingkah, artinya selalu mempelajari ilmu rahasia tentang alam semesta yang berasal dari Tuhan.

Handarbeni, Hangrungkebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani, seorang pemimpin hendaknya mampu mengolah hati dengan cara mawas diri. Dalam kaitannya ini orang Jawa mengenal tiga (3) falsafah psikologis mawas diri, yaitu: sikap rumangsa handarbeni yang berarti merasa memiliki dan mencintai negara, Hangrungkebi, berani membela negara demi keadilan dan kebenaran, Mulat sarira hangrasa wani, berani instropeksi dan mengoreksi diri secara jujur dan obyektif, sehingga mau dan mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya.

Adil, Berbudi, Wicaksana, dalam konteksi ini seorang raja/pemimpin tradisional harus memiliki 3 watak: adil (adil tan pilih sih), bermurah hati dan jujur (berbudi), bijaksana (wicaksana), ketiga syarat itu merupakan syarat yang sangat universal bagi seorang pemimpin. Pemimpin harus menegakkan wibawa dan kehormatan dengan sikap berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta ( berbudi luhur, mulia, adil serta penuh kasih sayang terhadap siapa saja).

Hamong, Hamot, Hamemangkat, Hamong, seorang pemimpin (raja) harus sanggup berperan sebagai pamong yaitu orang yang melayani bukan sebagai seorang yang selalu minta dilayani. Melayani berarti bertindak bukan sebagai penguasa, akan tetapi sebagai abdi rakyat, menuntut sikap menjauhi rasa kecewa dan menjauhi sifat mudah mencela. Hamot, berarti mampu menerima (amot/mewadahi) semua hal yang didengar atau disampaikan oleh orang lain. Mendengarkan keluhan dan aspirasi dari rakyat. Hamemangkat, menjaga derajat dan kedudukan sebagai seorang pemimpin. Sebagai seorang pemimpin/raja harus menjaga martabat pribadi dan negara dengan menjaga tingkah laku yang baik (moralitas) dan menjadi suri tauladan bagi rakyatnya.

Adigang, Adigung, Adiguna, Tiga larangan bagi seorang pemimpin, yaitu Adigang, Adigung, Adiguna. Adigang, berarti seorang pemimpin tidak selayaknya mengandalkan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang dan berlaku sombong. Adigung, berarti seorang pemimpin jangan mengandalkan kepandaiannya untuk membodohi dan membohongi rakyat. Adiguna, berarti seorang pemimpin jangan berani dan pintar berdiplomasi hanya untuk mengingkari janji atau kebenaran (berdalih). Sebaiknya pemimpin harus rereh, riris dan ngati-ati (sabar, teliti dan hati-hati) dalam menjalankan pemerintahan.

Kesimpulan
Secara umum, dapur Jangkung Mangkunegara mempunyai makna bahwa seorang pemimpin hendaknya memberikan perlindungan dan memelihara secara menyeluruh terhadap segala sesuatu dalam wilayah kekuasaannya dan menjalankan tugas secara bertanggungjawab. Budi pekerti dan laku susila (moral) yang harus menjadi teladan bagi masyarakat.

Simbolisasi dalam Jangkung Mangkunegara membentuk pola kepemimpinan yang dapat dijadikan inspirasi bagi setiap pemimpin dalam mengelola kekuasaan dan berinteraksi dengan masyarakat. Semakin kuat struktur pemerintahan dan sistem kepemimpinan, maka semakin tidak tampak kekuasaan seorang raja. Ia menjalankan dan mengelola negara dengan sistem tata negara dan perundang-undangan yang baik, sehingga fungsi-fungsi pemerintahan berjalan dengan semestinya. Keberhasilan kepemimpinan dari kekuasaan seorang raja terukur dari kesejahteraan bagi negara dan rakyatnya. Itulah antara lain cita-cita yang diusung dari suatu ajaran yang tersimbolkan dalam dapur keris Jangkung Mangkunegara. Raja yang baik hendaknya menjaga keseimbangan antara kekuasaan besar dengan kewajiban dan tanggungjawab yang besar pula.

Bacaan:
- Budiono Herusatoto, Wejangan Kepemimpinan dalam Serat Sastra Cetha, SKH Kedaulatan Rakyat, Lembar Adiluhung, Minggu 24 Februari 2008, Yogyakarta
- Djoko Dwiyanto, Kajian : Serat Pustoko Rojo Purwo, Pura Pustaka, Yogyakarta, 2006
- M.Damami,dkk. Kajian: Kanjeng Kyai Surya Raja ( Kitab Pusaka Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat).Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia, Yogyakarta,2002.
- Sri Sunan Pakubuwono IV, Serat Wulangreh, terjmh. Darusuprapta,Citra Jaya Murti, Surabaya, 1996
- Suyami, Konsep Kepemimpinan Jawa (Dalam Ajaran Sastra Cetha dan Astha Brata), Kepel Press, Yogyakarta. 2008.
- Wawan Susetya, Kepemimpinan Jawa, Narasi, Yogyakarta, 2007


-Saduran dari PAMOR semi Jurnal Tosanaji.
Category : Filosofi | Posted By : administrator

06 Aug 2011   09:54:41 am
Keris, Sebagai Panduan Hidup Berbudi Luhur

Relief Candi Sukuh yang sarat makna simbolisme

Oleh: Slamet Kuntjoro


Dibalik keris terkandung nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan, dan yang harus tidak terbuang oleh hiruk-pikuknya orang mencintai keris (komunitas). Pembacaan nilai-nilai itu telah sangat sering diutarakan dan dituliskan, namun juga sering terlihat bahwa komunitas keris lebih suka mengabaikannya dan lebih suka bergaul dengan trend-trend pada seni bentuk dan senirupanya saja.

Pada saat keris mendapat penghargaan UNESCO, maka semaraklah pendirian paguyuban-paguyuban di seantro Jawa-Bali. Sebagai kekuatan moral bangsa, paguyuban adalah ”pilar-pilar kebudayaan” yang harus dipertahankan, karena selain masih tradisional, wadah seperti ini sangat fleksibel untuk melibatkan berbagai pihak dalam melaksanakan kegiatannya. Maka demi kesinambungan mempertahankan nilai luhur keris harus dimulai dari sini, selain itu dibutuhkan ruang publik yang lebih terbuka seperti dilakukan pula penerbitan-penerbitan buku dan seminar-seminar.

Walau demikian, nilai-nilai luhur keris ini pun sering lepas dan tidak terhayati dengan baik oleh komunitasnya, karena justru essensi traditif dari keris sering terpisah bagai minyak dan air. Keluhurannya terkalahkan oleh berbagai kepentingan, baik itu masalah gengsi, iri hati, perdagangan dan banyak lagi. Jika ditelisik justru di dalam paguyuban terjadilah saling gontok, hasut-menghasut bahkan sering pula terjadi karakter assasination, korbannya justru biasanya aktivis yang lurus dan asset yang sangat berharga sebagai pegiat pelestarian. Primordialisme semacam ini memang wajar karena mayoritas dalam komunitas keris masih terdominasi oleh kalangan tak berpendidikan, atau setidaknya kurang memahami nilai luhur keris oleh sebab keris hanya dipandang sebagai benda asset atau komoditi antik yang menguntungkan. Persaingan dagang dan harga diri sering tak dapat dikendalikan dengan baik. Tak heran jika pada satu kota berdiri 3 – 4 paguyuban akibat gontok-gontokan yang kemudian paguyuban-paguyuban itu juga akhirnya terbenam tanpa kegiatan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam keris sangatlah dapat untuk menjadi tuntunan bagi kehidupan. Melalui renstra (rencana kerja strategis) SNKI pada kepimpinan masa mendatang, semoga saja mulai menjamah nilai-nilai keutamaan keris untuk berbudi luhur. Diharapkan ada strategi dan segera dapat disosialisasikan baik kepada anggotanya (intern paguyuban) agar menjadi suri tauladan masyarakat yang melihatnya. Ikut serta ”tutwuri handayani" dan melakukan sesuatu yang memiliki nilai, walau tidak kita sadari. Karena jika hal ini dikaji kemudian dirangkum menjadi semacam sesanti, maka sebagai penggemar keris tentunya dapat memberikan pula sumbangsih kepada negara setidaknya dengan memberikan ketauladanan yang dapat diambil dari nilai luhur keris itu.


Kanjeng Kyahi Gurda karya Toni Junus


Keris mengandung ajaran dalam simbol-simbol

Keris sebagai sebuah karya merupakan penggambaran dari simbol-simbol yang merupakan kaca benggala pola tatanan hidup dan pemahaman ke-Tuhanan. Bentuk dhapur yang berbagai jenis adalah pengejawantahan pesan tentang apa yang dapat dihayati sebagai hasil dari penghayatan berguru kepada alam, berguru kepada kehidupan dan berguru serta manembah kepada Tuhan. Dhapur atau bentuk keris yang condong (condong leleh) sebagai penggambaran manusia yang membungkukkan badannya - manembah (menyembah kepada Tuhan YME). Bentuk lurus merupakan sebuah tuntunan untuk bertakwa kepada Tuhan serta bentuk berlekuk atau keluk seperti asap dupa yang berkeluk-keluk menuju kearah atas sebagai manifestasi kemanunggalan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Ratusan bentuk dhapur mencerminkan apa yang dapat diharapkan sebagai sebuah keutamaan berbudi luhur, dapur Brojol misalnya, adalah sebuah pengejawantahan keinginan manusia untuk senantiasa dapat lancar (mbrojol) dalam hal menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya. Lalu keris lurus yang dibahasakan dengan sebutan keris berdhapur ”bener” adalah sebuah simbolisasi tantangan untuk dapat mempertimbangkan segala sesuatu yang dialaminya dengan jiwa yang lurus (bener – pener).

Simbolisasi dari jenis dhapur sangatlah panjang jika diuraikan, tetapi ada beberapa pokok yang perlu dipegang antara lain dhapur Pandawa (luk 5) adalah simbol agar senantiasa manusia berwatak ”satria-pinandita” seperti intisari kisah pewayangan pendawa lima yang dihayati sebagai sebuah rangkuman dalam hal kebijaksanaan bertindak. Watak ”satria-pinadita” bisa dibahas sebagai keadaan manusia ”pemimpin” atau sering disebut satriya pinandita sinisih wahyu. Tuntunan untuk menjadi tokoh pemimpin yang amat sangat religius sampai-sampai di dalam kisah-kisah pewayangan digambarkan bagaikan seorang resi begawan (pinandita) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Gusti Allah (sinisihan wahyu), dengan selalu bersandar hanya kepada kekuasaan Gusti Allah, bangsa ini diharapkan akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Maka tak heran pada jaman kerajaan sering seorang raja juga disebut sebagai ”Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng ........, Senopati Ing Ngalogo, Abdurahman Sayidin Panata Gomo, Kalifatulah Ingkang Kaping .........”. Hal ini menunjukan bahwa nilai-nilai kepemimpinan diharapkan dapat selalu dipegang teguh sebagai seorang yang berwatak ’kesatria’ yang pemberani, berani marah, berani menegur, berani merombak , berani menginstrospeksi diri dan berani bertindak serta berjiwa religius.

Simbol-simbol pada dhapur keris selalu menjadi ’pameling’ (pesan agar diingat) yang sangat penting dan perlu dilakukan semacam penyusunan dan pengelompokan atau penulisan kembali agar penggemar keris dapat memanfaatkannya sebagai sebuah ajaran.


Keris sebagai perpaduan material Ibu Bumi Bapa Akasa

Ketika sang empu mewasuh besi (ditempa untuk membersihkan besi) sekian ribu kali pukulan sebagai perlambangan ”tapisan gebagan” membersihkan diri. Manusia senantiasa harus eling dan selalu membersihkan diri untuk berbuat sesuai nurani yang positif. Apa yang disebut hasil bakal keris (kodokan) adalah sebuah pemahaman bahwa manusia diberi wadah dan manusia diberi kesempatan karena memiliki akal pikiran untuk dapat digunakan menuju kepada kesucian dengan perilaku berbudi luhur.

Maka empu kita yang menganut maguru alam (berguru pada alam) selalu melakukan sebuah penyatuan atau dalam bahasa Jawa ’diwor’ – ’dimor’ yang kemudian disebut ’pamor’. Penyatuan dirinya terhadap api, maka sang empu seolah ikut ber-resonansi sebagai api, disinilah terjadi sebuah kekuatan ”Illahi” dimana sang empu menjadi sebuah media Allah. Penyatuan besi (pasir bumi) dengan benda angkasa (iron meteorite) telah dilakukan oleh mereka (para empu) sebagai sebuah perlambangan penyatuan Ibu Bumi dan Bapa Akasa. Dari langit dan dari bumi disatukan dalam tungku api yang dikendalikan oleh energi hasil resonansi penyatuan empu bersama api (kemanunggalan dalam keadaan berKetuhanan). Maka keris sebagai karya adalah merupakan ciptaan Tuhan melalui tangan manusia. Tak heran jika akhirnya diagungkan dan disakralkan. (Dang dahana bagni niraweh sara sudarma).

Prosesi pembuatannya yang selalu menyebutkan mantera berulang-ulang adalah seperti halnya trend pada masa kini aliran ’Gerakan New Age’ yang berkembang pada religius barat yang meniru timur sebagai gerakan spiritual pada paruh kedua abad ke-20. ’Gerakan New Age’ berputar di sekitar "menggambarkan kesahihan spiritual metafisik tradisi di Timur dan kemudian menanamkan segala sesuatu menjadi kekuatan dengan pengaruh dari self-help seperti halnya pembacaan mantera berulang-ulang, motivasi psikologi, pencapaian kesehatan holistik, parapsikologi, penelitian kesadaran dan hingga pengkajian fisika kuantum". Hal ini bertujuan untuk menciptakan "spiritualitas tanpa batas atau dogma" sehingga dapat berdiri sebagai ajaran yang inklusif dan pluralistik. Serta adanya ciri utama sebagai kesadaran baru yang memegang universalitas "pandangan dunia secara holistik", seperti demikian halnya situasi dan kondisi pada prosesi empu sebagai manusia yang menekankan bahwa Pikiran, Tubuh dan Roh untuk saling berhubungan dalam Kesatuan/Kemanunggalan dan persatuan seluruh alam semesta (manunggaling kawula Gusti). Lebih lanjut sebetulnya apa yang dilakukan empu telah mengangkat harkat manusia sebagai utusan sehingga sebenarnya prosesi yang panjang dalam pembuatan keris itu telah mencakup sejumlah bentuk ilmu pengetahuan dan pseudosains.

Maka dari itu ada sebutan ”Empu adalah pancer atau titik temu kemanunggalan antara yang tinemu ing nalar dan yang tan tinemu ing nalar” artinya bahwa dipercaya atau tidak dunia perkerisan memasuki keadaan penelaahan transcendental antara nalar dan tidak ketemu nalar dengan obyek yang diciptakan oleh utusan itu (empu).

Maka jika keris dianggap sakti, secara turun temurun baik itu melewati periode megalitik, hingga periode agama-agama hingga sekarang, jelas sekali bahwa nilai-nilai luhur pada keris tetap universal dari jaman ke jaman. Hakekat dari apa yang terkandung merupakan makna penyempurnaan dari perjalanan olah spiritual manusia menuju kesempurnaan hidupnya yang tercermin dari kekuatan pembacaan prosesi pembuatan keris tersebut.


Prosesi keris melalui apepayung budi

Menelaah tiga bagian keris (Peksi – Gonjo – Wilah), menjadi sebuah pemahaman simbol dari Yoni sebagai asal muasal atau alam Purwa, dan Gonjo atau Linggam yang melahirkan pemaknaan alam Madya dan selanjutnya menuju ke pucuk bilah sebagai pemaknaan alam Wusana. Yaitu sebagai penghayatan manusia sebelum berwujud, masih dalam alam Purwa, yang perlu di hayati dengan merenungkan dari mana sebenarnya manusia ini berasal, kemudian dalam alam Madya, manusia bergumul dalam kehidupan masa kini yang harus dilalui dengan perenungan dan tindakan dengan segala kawicaksanan (laku bijaksana) dan berbudi, hingga menuju kematian yang sempurna.

Orang Jawa lebih suka menelaah hal ini dengan beberapa anggapan bahwa manusia selayaknya berusaha menghayati semesta beserta isinya. Manusia diberi prabot komplit (lahir dan batin) oleh Tuhan YME dan dimana disadari derajat manusia lebih tinggi dari hewan. Manusia beradab adalah manusia yang berbudaya (culture men). Dalam falsafah Jawa, inti dari peradaban itu secara bertahap dan naluriah digerakkan oleh kemauan manusia (niat) untuk: Titi mangerti pranataning WIJI (mengerti atau berusaha mengerti tentang asal usul manusia), Titi mangerti pranataning DUMADI (mengerti atau berusaha mengerti tatanan yang tergelar pada jagat raya), Titi mangerti pranataning PAMBUDI (mengerti atau berusaha mengerti tatanan hidup yang berbudi), Titi mangerti pranataning PAKARTI (mengerti atau berusaha mengerti tatanan dari pekerti manusia). Kalau sudah mengerti ungkapan-ungkapan tersebut, maka semua yang ada di dunia ini akan menjadi alat manusia (gumelaring jagat dadi pirantining manungso).

Maka prosesi keris dari mulai bahan besi yang diwasuh (dibersihkan dengan tapisan gebagan) kemudian dibentuk sedemikian rupa memuat pesan-pesan yang tak lepas dari nilai-nilai luhur untuk menjadikan kita para penggemar keris, penghayat keris memiliki pegangan yang bukan berasal dari kekuatan Jin, setan atau pengertian yang menyesatkan tetapi merupakan tauhid dari apa yang terkandung secara falsafati.

Dengan demikian memang sangat perlu penghayat keris mulai merangkum nilai-nilai keutamaan untuk pembangunan manusia berbudi luhur dan ikut memantapkan pembangunan karakter bangsa, yang sangat dibutuhkan pada masa kini. Mengingat konstelasi politik yang berkecamuk di negeri ini tampak sekali disebabkan pula oleh karena adanya krisis moral dan hilangnya ajaran atau pameling untuk menuju hidup yang berbudi luhur. (dikutip dari buku Keris Mahakarya Nusantara - SNKI).


-
Category : Filosofi | Posted By : administrator

31 Dec 2009   09:42:12 am
Keris Luk 9 Dhapur Kidang Mas


"Sawijining kewan alasan memper wedhus, nanging ulese mrusuh kuning ngemu giring arane kidang kencana. Aja dumeh kidang, nanging beda lan kidang liyane, dheweke duwe prabawa kang gedhe, nganti gawe kepencute sapa kang wuninga. Mungguh sapa sejatine kang memba-memba dad...i kidang iki, ora liya abdi kinasih, hiya pothete negara Ngalengka, kang ora ana liya kajaba Ditya Kala Marica saperlu nggora godha Dèwi Sinta. Sang Dewi kapilu marang kaéndahané kidang Kencana nganti lali purwa duksina manawa teteluné lagi ana madyaning alas kang gawat kaliwat. Kidang musna lan Sang Dèwi aminta ingkang raka Prabu Rama supaya arsa ambujung nganti kacandhak arsa kanggo klangenan.........".

Kutipan di atas adalah penggalan dari epos Ramayana. Cerita ini memiliki latar waktu di zaman dahulu serta berlatar tempat di negri Mantili, Kerajaan Alengka, Hutan Dandaka, Gua Kiskendo dan Taman Argasoka. Cerita ini memiliki alur maju. Bagian dari sinopsis cerita adalah ketika Rama Wijaya, Shinta, dan Leksmana sedang bertualang ke hutan Dandaka. Rahwana sebagai Raja Alengka melihat Dewi Shinta dan ingin memperistrinya. Maka Rahwana menyuruh seorang raksaksa bernama Ditya Kala Marica untuk mengubah dirinya menjadi Kijang Kencana yang berarti Kijang Mas (Kidang Mas). Shinta yang terpesona melihat Kidang Mas tersebut menyuruh Rama menangkapnya. Lalu Rama pergi mengejar kijang itu. Setelah menunggu lama, Shinta merasa khawatir dan menyuruh Leksmana untuk menyusul Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran magis sebagai berlindungan bagi Shinta. Dengan lingkaran itu, Shinta tidak boleh mengeluarkan sedikitpun anggota badannya agar tetap terjamin keselamatannya.

Kidang Mas atau Kidang Kencana, dalam kaweruh padhuwungan atau pengetahuan tentang keris, Kidang Mas diwujudkan dalam sebuah bentuk keris berluk 9 dengan ricikan gandik polos, memiliki pijetan, tikel alis serta greneng. Tanpa memiliki ada-ada ataupun kembang kacang dan jenggot. Dengan gandik lugas, seakan keris ini menjadi sederhana. Tetapi dibalik kesederhanaan itu, Kidang Mas sering menampilkan daya tarik tersendiri. Semakin dalam kita mengamati keris dapur Kidang Mas, maka semakin terlihat keindahan dibalik kesederhanaan itu. Demikian pula jika kita cermati, mencari keris berluk tanpa kembang kacang tetapi tetap terkesan indah dan luwes sesungguhnya juga tidaklah mudah seperti yang kita sangkakan. Tanpa Kembang Kacang, luk keris dari tarikan awal haruslah benar2 pas sesuai petungnya. Secuil paparan di atas hanyalah sekilas tentang keindahan keris dapur Kidang Mas dari aspek fisik semata. Lebih jauh dari itu, jika kita berusaha mengupas lebih dalam, sesungguhnya Kidang Mas memiliki makna filosofi hidup. Epos pewayangan "Ramayana", mungkin bisa menjadi salah satu titik tolak untuk mengupas dapur Kidang Mas. Cerita Ramayana memiliki banyak pituduh, kaweruh dan berbagai pelajaran hidup. Dari mulai kesetiaan, kepahlawanan, pengorbanan, cinta kasih, bahkan bisa digali sebagai perjalanan spirituil seorang perempuan. Disini memang tidak akan diulas hal2 yang lebih mendetail, tetapi hal yang lebih fokus pada pemaknaan atas dapur keris Kidang Mas.

- Tulisan MM. Hidayat; Gallery Keris Ujung Galuh - Disadur posting Face Book 26 Des 2009; Wall Photos; Iklan Back Cover PAMOR #13

-
Category : Filosofi | Posted By : administrator

 
1 2 Next
Jun 2014 July 2014 Aug 2014
S M T W T F S
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31   
Categories
Album[47]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
GOTONG ROYONG JOKOWI
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
Archives
January 2013[3]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[10]
May 2010[11]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[91]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter