Anda memasuki pendalaman pemahaman "Keris" dan Tosan Aji untuk ikut melestarikan salah satu budaya yang spesifik di dunia ini. Berawal dari Jawa, kita menapaki kearifan lokal se Nusantara.

Kini "Keris" telah menjadi warisan dunia, oleh sebab nilai intangible yang menyertainya, antara lain: Aspek Kesejarahan, Aspek Fungsi Sosial, Aspek Tradisi, Aspek Filosofi dan Simbolisme, Aspek Mistik, Aspek Seni dan Aspek Teknologi.

Sudah saatnya sebagai ilmu budaya untuk memulai "Krisologi" yang akan terus berkembang dan perlu disajikan untuk khalayak umum sedunia. Marilah kita apresiasi kearifan lokal bangsa, sebagai warisan budaya yang tak mengalami kepunahannya.

Salam Budaya,
Toni Junus
[Admin JavaKeris.com]
Advisory IT: Jimmy H.E.W

BAGI PECINTA/PELESTARI BUDAYA KERIS & TOSAN AJI

JavaKeris.com terbuka bagi siapapun yang memiliki minat untuk melestarikan budaya Keris & Tosan Aji. Jadi bagi anda yang ingin berpartisipasi atau ingin berbagi pemikiran, kajian, opini, peristiwa, atau mungkin sekedar ingin berbagi foto koleksi dengan rekan pengunjung yang lain, silahkan kirim naskah atau filenya via email ke toni.junus@yahoo.com
22 Jan 2013   08:16:01 am
SECARIK CATATAN BPH SUMODININGRAT



KRISOLOGI
Translasi secarik kertas ketikan kuno BPH. Sumodiningrat

Bahwa apa yang disebut kerisologi itu adalah pengetahuan tentang keris. Seperti sosiologi yaitu pengetahuan bermasyarakat, masyarakat (sosio). Antropologi pengetahuan tentang manusia (antropogos), geologie pengetahuan tentang bumi, patologie pengetahuan tentang penyakit dan lain-lainnya.

Keris itu bahasa Jawa ngoko, bahasa halusnya Dhuwung, bahasa yang lebih tinggi lagi (luhur) Wangkingan. Kata Wangkingan itu asalnya dari kata Wangking yang artinya pinggang. Kata wangking itu bahasa umumnya, berhubungan dengan keris adalah kata NYENGKELIT (ngoko). Jadi Wangkingan berarti barang yang disengkelit. Keris itu untuk sebagian orang menjadi salah satu pelengkap busana untuk pakaian sekaligus sebagai senjata untuk jaga diri, menangkis bahaya. Kalau orang berkata keris, dhuwung, wangkingan tentu yang dimaksudkan adalah Dhuwung yang sudah mrabot, artinya sudah lengkap dengan jejeran (ukiran), rangka (sarung), juga kandelan (pendok). Lalu yang berbentuk besi panjang gepeng seperti pisau itu dinamai wilah (bilah), istilahnya wilahing dhuwung.

Umumnya bilah dhuwung tadi yang umum dibuat dari besi, tapi juga ada yang dibuat dari perunggu. Kalau dhuwung perunggu tadi bukan barang tiruan, tetapi betul-betul asli (tulen), itu pasti pusaka. Karena dhuwung perunggu tadi lebih tua daripada dhuwung besi. Sebab ketika jaman perunggu, orang belum mengenal besi.
Setelah mengenal besi yang lebih kuat itu, maka kemudian dhuwung tadi di masyarakat Jawa dipundi-pundi, disimpan rapi, di hormati, makanya juga disebut “Wesi Aji” bahasa tingginya “Tosan Aji”. Kenyataan dhuwung tadi dihormati, dirawat, disimpan rapi, dianggap barang yang suci, karena menurut kepercayaan orang jawa, dhuwung tadi punya daya gaib (magic power, magische kracht). Juga bab daya gaib (magic power) itu, para sarjana, para mitra budaya, yang senang memperhatikan dan mempelajari tosan aji, kebanyakan mengalami sendiri menjadi pengalaman pribadinya, bahwa tosan aji itu benar-benar nyata punya daya gaib. Adanya tosan aji tadi punya daya gaib ini oleh para sarjana jaman modern yang sudah mengerti ilmu atom sama sekali bukan barang yang tidak masuk akal, bukan yang aneh, sebab kawruh modern sudah mengakui jika dunia yang luas ini sejatinya bukan benda yang berhenti, tapi benda bergerak yang hidup.

Atom dan electron yang memenuhi dunia tadi, selalu bergerak meskipun batu padas yang segebyaran jika diamati dikira diam dan mati, sejatinya bergerak, sebab atom yang terdapat pada batu padas tadi bergerak terus (in trilling = bergetar) jadi mempunyai vibrasi. Kesimpulannya semua barang yang ada di alam ini mempunyai vibrasi, begitu juga swasana (eter).

Sebab dari daya atom dan vibrasi tadi, maka sekarang ada radio, televisi, computer dan lain-lain sebagainya. Daya gaib yang keluar dari tosan aji, dapat mengandung radiasi, tapi sejatinya dayanya gaib itu berbeda dengan radiasi.
Radiasi ini berasal dari daya vibrasi (thrilling, getaran), kalau daya gaib (magic power) umumnya baru dapat dibuktikan kalau ada keperluan terdesak marabahaya atau menemui hal bahaya. Jadi ini ada 3 bab, vibrasi, radiasi dan daya gaib, vibrasi ini getaran dhuwung (trilling), dan radiasi tadi biasa disebut “Yoni”.

Meskipun dhuwung tadi mempunyai vibrasi, belum tentu mempunyai yoni (radiasi). Orang yang tajam rasanya, sering dapat melihat besar kecilnya yoni pada dhuwung atau pada waos (tumbak).

Jadi kalau begitu semua dhuwung, waos (tumbak), kadga (keris), cundrik, patrem itu semua mempunyai vibrasi, tetapi yoninya (radiasi) belum tentu sama. Apalagi tidak semua tosan aji mempunyai daya gaib.

Meskipun demikian vibrasi yang keluar dari tosan aji tadi asalnya dari vibrasinya besi, vibrasinya baja, vibrasinya pamor, vibrasinya api (dahana), vibrasinya air (tirta), vibrasinya angin (maruta) sudah sedemikian rupa mempunyai daya sendiri-sendiri. Besi dan pamor yang sudah digarap sang Empu dapat menjadi dhuwung yang bagus. Menjadi dhuwung yang bagus tadi terjadinya dari konsentrasinya sang Empu. Konsentrasi tadi asalnya dari rasa dan cipta. Karena bersatunya rasa, cipta dan karya, dapat menjadikan terbentuknya tosan aji.

Kalau kebetulan cocok memilih besi, tepat memilih pamor, tepat waktunya suasana menggarap, juga tepat rasa nuraninya Empu, pengerjaan tadi akhirnya berwujud tosan aji, maka yang tercipta adalah karya yang hebat prabawa dan dayanya kuat, sebab sang Empu waktu itu sebenarnya sedang mendapat wahyu dari Pangeran yang Maha Agung. Hal begini ini sebetulnya juga tidak aneh, karena sebelum Empu mulai mengerjakan, ia bertapa dulu, bersuci lahir batin, pasrah kepada Hyang Murbeng Dumadi. Vibrasinya sang Empu sudah dapat manunggal dengan vibrasinya alam raya (resonantie).


BPH. Sumodiningrat adalah seorang cucu PB X, yang merupakan tokoh perkerisan ahli Isoteris Keris.
Beliau melanjutkan Kerisologi yang dicetuskan oleh KGP. Hadiwidjojo Maharsitama.


-disunting oleh TJ.
Category : Kerisologi | Posted By : administrator

27 Oct 2012   07:09:15 am
Kajian non-bendawi Keris, merintis Kerisologi (Bedah Buku)
Oleh Toni Junus


Karya seni instalasi keris - Soegeng Prasetyo

ABSTRAK
Keris, adalah benda budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita berikut nilai pengetahuan dibalik kebendaannya. Antara lain tradisi, praktek-praktek sosial, ritual - spiritual sehubungan dengan penghayatan manusia terhadap Tuhan yang dimanifestasikan pada alam semesta dan kehidupan. Melalui penelitian, riset dan penalaran, keris merupakan obyek kajian etnologi, semiologi, dan fenomenologi dari sisi pandang filsafat maupun antropologi modern. Studi pada penggejalaan ekspresi masyarakat terhadap keris serta mistikisme yang ada, merupakan kajian 'sosial psikologi' dan psikologi.

Bab 1.: Latar belakang – Buku : TAFSIR KERIS
1. Menjelaskan ‘Judul’ dengan kata Tafsir dalam konteks penafsiran terhadap sesuatu, sebagai berikut: Penafsiran atau interpretasi adalah proses komunikasi melalui pembacaan pada suatu obyek yang menghasil-kan penilaian. Penafsiran atau Interpretasi sering digunakan dalam penelitian, sebagai ‘metode’ jika dibutuhkan. Jika suatu objek (karya seni, ucapan, sastra dll) cukup jelas maknanya, maka objek tersebut tidak mengundang suatu interpretasi atau penafsiran. Istilah tafsir atau interpretasi merujuk kepada proses penafsiran untuk sesuatu yang ‘belum jelas’.
Suatu interpretasi dapat merupakan bagian dari ‘presentasi’ atau ‘penggambaran informasi’ dari suatu bentuk kumpulan simbol-simbol yang spesifik. Informasi itu dapat berupa lisan, tulisan, gambar, tanda-tanda, kode matematika, atau berbagai bentuk susastra. Walaupun seolah bebas, namun sebenarnya untuk pemaknaan yang kompleks hanya dapat diungkapkan jika penafsir menempatkannya pada kerangka pengalaman dan pengetahuannya yang luas .
Konsep Leo Tolstoy*: Interpretation = Insight + Intelligence + Experience + Object (IIEO).
“Interpretation of an art object is the result of an assessment which is influenced by the insights, intelligence and experiences”. (Interpretasi dari objek seni adalah hasil dari penilaian yang dipengaruhi oleh wawasan, kecerdasan dan pengalaman).
2. Buku Tafsir Keris ditulis sebagai upaya mendokumentasikan hal-hal yang menyangkut esoteri dalammenafsirkan keris sebagai sebuah gejala yang nyata-nyata ada dan menjadi suatu budaya, yaitu budaya spiritual yang melekat pada keris. Oleh sebab itu keris bukanlah warisan peninggalan kebendaan biasa, melainkan merupakan benda ‘warisan budaya’.

Bab 2.: RISET
- Penelitian artefak keris dan situs
- Kepustakaan
- Wawancara dengan nara sumber
- Kajian translasi naskah Jawa carik
- Wilayah, terbatas Surakarta (mempersempit obyektif-nya). Contoh: Museum-museum, Radhya Pustaka, Dalem Mloyokusuman, Situs Besalen Mangkubumen, Candi Sukuh, dlsb.

Bab 3.: Metode dan Kemasan
a. Cara Penulisan
Gaya penulisan yang digunakan adalah penulisan Jurnal*, artinya ‘saya’ sebagai subyek yang melakukan observasi dan sebagai orang yang menceritakan. Hal ini berkaitan dengan judul buku yaitu Tafsir Keris.
*Jurnal: a daily written record of (usually personal) experiences and observations.

b. Cara Visualisasi
Penampilan buku dibuat banyak foto, design buku dengan Hard Cover luxury printing.
Teks dalam dua (2) bahasa.
Dikemas sebagai buku koleksi yang disajikan semi ‘coffee table book’.

c. Pokok Acuan
Keris sebagai benda budaya mengandung nilai-nilai kesejarahan, ekspresi masyarakat terhadap keris, seni - tradisi dan kepercayaan. Oleh sebab itu dilakukan penelitian terkait nilai-nilai tersebut dalam sisi pandang yang universal dan luas yang mencakup pemahaman dalam lingkup kebudayaan Jawa.

1. Kesejarahan
Meneliti dan mengkaji data yang dianggap sejarah* yang berdasar dari tutur tinular, agar lebih tegas dan akurat dengan cara mendekati obyek yang terlibat, wawancara dan penelusuran situs, tempat, barang peninggalan atau warisan (keturunan) yang masih ada dan ditemukan agar dapat memperkuat data tersebut dalam hal kesejarahannya, ekspresi masyarakat keris, seni - tradisi dan kepercayaan.

*merevisi data dari tutur lisan yang dijadikan sebagai catatan atau referensi.

2. Seni -Tradisi
Penelitian pada catatan kuno, tutur lisan sesepuh dan keadaan yang masih ada pada saat sekarang, seperti upacara-upacara keraton, wawancara ahli tradisi yang berkaitan dengan keris. Serta pemakna-an simbol-simbol yang sudah sering diutarakan dalam pengetahuan perkerisan, sebagai pembacaan tanda-tanda (Semiologi*). Menampilkan Kidung-kidung (mocopat) sebagai awal pengenalan pada sisi pandang hubungan keris dengan kesenian lain atau manuskip Jawa (Hermeneutica*).

Pembahasan terhadap nilai seni atau estetika yang ada pada keris dalam obyektif tafsir dengan menampilkan foto-foto koleksi keris.

*) Semiologi artinya an interpreter of signs, merupakan perkembangan ilmu sosial dalam filsafat umum dan terlibat pula dalam Antropologi modern, seperti halnya Etnologi dan Forensik.

Semiologi memiliki 2 acuan pemikiran antara lain versi Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Ferdinand de Saussure lebih kepada pendalaman bidang linguistik sementara Sanders Peirce lebih kepada ’tanda-tanda’ karena Charles Sanders Peirce berlatar belakang sebagai seorang ahli kimia dan bekerja sebagai ilmuwan. Sumbangan pemikiran Sanders ini meluas hingga ke ranah logika, matematika, filsafat, dan semiotika (semiologi) dengan penemuannya soal pragmatisme yang dihormati hingga kini.

*) Hermeneutika (dalam bahasa Yunani: hermēneuō - menafsirkan) adalah aliran filsafat yang bisa di-definisikan sebagai teori interpretasi dan penafsiran sebuah naskah melalui percobaan. Meliputi kajian ilmiah, penemuan, kefasihan bicara, seni tulis dan kesenian. Hermeneutika umumnya lebih berkaitan dengan penafsiran kode-kode yang asing (bisa meliputi seperti bahasa dan huruf Jawa, sastra dalam mocopat, bahkan bahasa puisi dalam kitab Suci, seperti Alkitab, dlsb).

3. Kepercayaan
Keris tak lepas dari kepercayaan tuah, mantera dan ritual, berkaitan dengan sesuatu gejala dan ekspresi kehidupan yang ada dalam masyarakat umumnya (Fenomenologi dan Sosial Psikologi). Pemanfaatan dalam arti fisik seperti sebagai pelengkap busana yang memuat fenomena status sosialnya, dan dalam arti imajiner sebagai ajimat, piyandel dlsb. Oleh sebab itu perlu ditarik keterkaitan dengan etniknya, seperti Kejawen, adat Bugis, adat Bali dlsb. Karena wilayah pembahasan buku Tafsir Keris dipersempit pada pembahasan khusus keris Jawa maka orientasi penelitiannya pada kepercayaan Jawa (Kejawen). Sementara itu Kejawen sendiri sangat luas oleh banyaknya ajaran-ajaran (sempalan) yang dianut oleh komunitas-komunitasnya (seperti, Sapto Dharmo, Sumarah, Subud, Perjalanan, Pangestu dlsb yang sifatnya lebih kepada mendalami ilmu Manembah; Silat Sinlamba, Satrya Nusantara dlsb yang sifatnya lebih mendalami ilmu Pernafasan; Paguyuban Roso Tunggal, Setia Hati dlsb yang mendalami ilmu Kanuragan). Maka perlu adanya penelusuran pada sempalan-sempalan yang ada itu dengan penelitian yang berbasis kepada asal muasal atau babon-nya ilmu kepercayaan Jawa yang sebenarnya, yang universal dan luas hingga mencakup pemahaman apa itu kebudayaan Jawa. Dalam hal ini ada sebuah penemuan yang mendasar yang mau-tak mau harus diangkat kepermukaan. Penemuan itu yakni adanya kearifan lokal budaya spiritual, berupa ajaran tua yang disebut dengan ilmu Sastra Harjendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang dapat dianggap sebagai babonnyaKejawen sebagai filsafat hidup yang berasal dari bangsa kita sendiri. (Etnologi, kearifan lokal).

4. Preparasi Data
Buku Tafsir Keris merupakan pagelaran data dan realita yang masih bisa ditemukan terutama yang berada dalam lingkup jaman yang tidak terlalu jauh dari sekarang. Dalam konteks pengetahuan keris Jawa (Kawruh Padhuwungan), buku ini merupakan sebuah rangkuman yang meliputi kesenian, seni - tradisi (ritual), teknologi dan kesejarahan. Antara lain menelusuri kembali mengenai:
1. Tradisi penciptaan Keris.
2. Tradisi Perawatan Keris.
3. Upacara Keraton berhubungan dengan Keris.
4. Ritual dan Mantera (mistikisme).
5. Aliran kepercayaan pada tuah.
6. Teknik dan istilah-istilahnya (seperti Gebagan dan Gedhaga, dlsb).
7. Menelusuri keris tangguh Surakarta, tangguh Mangkubumen, empu Brojoguno dan empu GPH. Mloyokusumo.
8. Koleksi keris dan penafsirannya.
9. Keterkaitan Keris dengan seni tradisi lainnya (kidung/mocopat dan puisi-puisi).
10. Data-data baru yang ditemukan.

Bab 4.: IMPLIKASI/Siratan
- Sesuatu yang terkandung atau tersirat dalam buku Tafsir Keris, merupakan sebuah penampilan dengan bahasa yang dibuat komunikatif (jurnal, cara lain dalam penulisan ilmiah).
- Tersirat prinsip sebagai upaya mengangkat data dan realita yang ditemukan secara apa adanya dengan tujuan menghindari pendangkalan dan penyangkalan aspek-aspek intangible keris secara holistik, antara lain aspek mistik keris.
- Penulis menyimpulkan, disebabkan oleh adanya ’ketakutan’ yang menggejala pada kegiatan pelestarian budaya (Keris), aspek mistik seolah tidak terjangkau dan tidak dikaji secara ilmiah, karena telah terjadi ‘salah cara meng-observasi’ yaitu dalam hal membaca ‘mistik keris’ sebagai warisan budaya (kebudayaan), yang dibaca dari ranah agama-agama.
- Hal-hal yang bersifat stigmatis tahayul dan klenik lebih melekat dibanding upaya melakukan pendekatan dari sisi Spiritual (vertikal) dan Supranatural (horisontal) yang sebetulnya akan lebih bijaksana jika diuraikan melalui sistem ‘penalaran budaya’.
- Buku Tafsir Keris merupakan kajian tentang hubungan Keris dengan masyarakatnya (Jawa), diharapkan nantinya akan menjadi obyek penelitian para ahli di bidang akademiknya, dan merupakan pintu gerbang menuju ilmu baru yang disebut ‘Kerisologi’.
- Seyogyanya begitu.......

Salam Budaya.
Penulis Buku Tafsir Keris - TJ.
Category : Kerisologi | Posted By : administrator

19 May 2011   08:47:22 am
The Kris esoteric related to its making process.

Garret Solyom the author of a book 'The World of the Javanese Kris'

The word ‘esoteric’ is quite commonly used in the world of kris to refer to something existing beyond the physical form of the kris. This esoteric is also regarded as the mystical power of the kris. It is this mystical power that attracts the kris lovers, because it contains the hope that the kris he owns will help in solving life’s problems, and the hope to gain welfare and continuity in business.

From an anonymous note found in an untitled book at the Radhya Pustaka library, Surakarta, written in Jawa carik (Javanese script/letters), freely adapted into Latin wording by a friend of mine, among others the following are mentioned in coherence (quote only step 1 and 6):
1. Kyahi empu nyamektakaken ubarampening wilah tuwin tosan waja, sinambi nindakaken samadi supados pikantuk wisik ngingingi wujud punapa ingkang gegayutan kaliyan dhuwung ingkang badhe kadamel, kalarasaken kaliyan pakaryaning tiyang ingkang nyuwun kadamelaken dhuwung punika, kadosta: supados kathah rejekinipun utawi kangge kapangkatan. Inggih ing wekdal punika mujudaken wekdal panyrantos ingkang panjang, amargi kyahi empu boten miwiti pakaryanipun saderengipun angsal tumuruning pitedah.

Translation:
1. Kyahi empu prepares and cast the mantras over the steel material while meditating to acquire inspiration about the shape of the kris to be made, in consistence with the customer’s profession; such as useful to gain lots of fortune or useful to achieve certain positions. This stage constitutes a long waiting process, because the kyahi empu will not begin before he receives divine guidance from God Almighty.

Deliberation ad. 1:
The sentence ”..to gain lots of fortune or useful to achieve certain positions”, gives the understanding that the keris is indeed created to have a certain potency (tuah) for certain purposes and benefits for someone, through the guidance of God.

6. Sasampunipun punika keris ingkang sampun dipun garap mawujud, lajeng ngancik tataran nyepuh, kyahi empu nyamektakaken bumbung ingkang dipun isi lisah klopo dipun jangkepi mawi lampah srengat tuwin sajen, padatanipun namung sekar telon, tumpeng alit, recehan kangge lelembut tumbas jajan peken saha wangen-wangen kukusing menyan. Dhuwung dipun mantrani kanthi kalarasaken kaliyan ingkang andhawuhing damel. Dhuwung dipun besmi ngantos marong lajeng dipun celupaken wonten ing salebeting bumbung ingkang dipun iseni lisah klopo. Wonten ingkang pucukipun dipun obong malih lajeng katindakaken sepuh dilat punika latu ingkang marong mawi dipun dilat dening kyahi empu ingkang sekti, padatanipun wewahan donganipun inggih punika waosan sastro pinodati, sastro gigir lan rajah kalacakra.

Translation:
6. After the kris is forged into its final finished shape, the nyepuh (quenching) or steel hardening stage is reached. The Kyahi empu prepares the bumbung (bamboo tube) filled with coconut oil, accompanied by the performing of a ritual and the serving of sesaji which usually consists of just a small ‘tumpeng’ (cone shaped rice mound), three kinds of flowers and some small change for the lelembut (spirits) to spend on jajan pasar (traditional snacks), while burning frankincense. Mantras are uttered repeatedly over the kris, according to the requested desired objective. The kris is then put into the fire until it smoulders and after that immersed into the bamboo tube filled with coconut oil. Some of the kris are burnt again only at the tip, and then a sepuh dilat*) is performed, which means that the smouldering tip of the kris is licked by the Kyahi empu while uttering the sastra pinodati, sastra gigir and the rajah kalacakra mantras.

Deliberation ad. 6:
In general the kris is considered sacred and glorified because of the uniqueness of the ceremonies and technologies involved in the making process. The objective of the ’sepuh’ (quenching ) process is to make the steel become hard. In the spiritual review of the process of creating of a kris at the sepuh stage, the accentation is precisely at the time of performing the ritual and sesaji as an offering to Hyang Gusti (God Almighty), and to ’kulo nuwun’ (ask for permission) to the ’baurekso’ (spiritual guardian/custodian) of the surroundings. Even ’uang receh’ (small change)is provided for the ’lelembut’ (spirits) to spend on ’jajan pasar’ (traditional snacks); this is a form of compensation, just in case there is a shortfall or negligence in the presenting of the sesaji, the ‘lelembut’ may then go and spend the ‘uang receh’ at the pasar (market) themselves. And then the sentence that read : “Some of the kris are burnt again only at the tip, and then a sepuh dilat*) is performed, which means that the smouldering tip of the kris is licked by the Kyahi empu while uttering the sastra pinodati, sastra gigir and the rajah kalacakra mantras”.


A sesaji at the traditional method of ’menyepuh’ (quenching) a finished kris.



’Sepuh dilat’ is a traditional method of ’menyepuh’ (quenching) a finished kris, to nail or bind the magical power/tuah/Yoni unto the kris.


’Sepuh dilat’ is a ritual consisting of the process of licking a smouldering piece of steel/iron (usually a smouldering dagger), which is then snapped (suddenly immersed) into water spread over with flowers, as a symbolization of the unification of two contrasting powers (antithesis). When fire and water united accompanied by the mantras of the empu, a power is implanted upon the kris that went through the ’sepuh dilat’ process. ’Sepuh dilat’ can be interpreted as ”ngejingaken doyo” (nailing or binding the magical power/tuah/Yoni). In the Sastro Jendro Hayuningrat teachings (particularly at the Sastro Jendro community under the leadership of KPH. Darudriyo Sumodiningrat, with its center in Jakarta) the ’sepuh dilat’ is part of the manembah ritual (worship of God), which can be explained as a asesuci (self cleansing act). Of course only for the followers who have already gone through the wejangan (initiation process). The self cleansing process called ’asesuci’ consists of four kinds, which are the ’asesuci’ using the bumi (earth), angin (wind), tirta (water) and api (fire) medium. The earth and wind ’asesuci’ are not performed as a group or communal because these rituals are of very personal nature and constitutes an advanced or high level. Therefore the ’asesuci’ is usually performed using the ’tirta’ or the ’api’ medium. In the ’asesuci api’ ritual, the act of licking ember with the tongue is done 7 (seven) times; corresponding to men’s chandra diagram which indicated that men has 7 physical constructions which in the Kejawen Sastra Jendra is called sapta arga (hair, skin, flesh, muscle, blood, bone, marrow), thus these 7 constructions are being cleansed (purified) one by one. Meanwhile the ’asesuci tirta’ constitutes the washing of the body and hair using flowered water. This is commonly done by Javanese people. The ’sepuh dilat’ is usually peformed at the Upacara Sinidhikara Pusaka (Sinidhikara Heirloom Ceremony) particularly in the ritual to preserve the power of the kris, and aside of that it is also a customary manembah ritual (worship of God) on each night before Jum’at Kliwon (Kliwon Friday). Among the community of believers the ’sepuh dilat’ is refered to with the term ”jamasan”.

Footnotes:
*) ’Sepuh dilat’ was recorded in a ritual performed by Sinuhun Paku Buwana the Xth in the presence of his guest the King of Siam Rama the IVth (Chulalonkorn) at the Alun-alun Utara (North Square); from an article by S. Lumintu (clipping from the Buana Minggu newspaper) and the stenciled book ”Sri Susuhunan Pakoe Boewono X – Kenanganku Sepanjang Masa”; by KPH Djojohadinegoro S.H. (July, 1990). In the book titled ”Keris Jawa; antara Mistik dan Nalar”; by Haryono Guritno, it was written that the last empu recorded capable of performing the ’sepuh dilat’ was Wirasukadgo in the era of Paku Buwana the Xth.

(AZ – http://keriskamardikan.com/en/articles/76)
-[img][/img]
Category : Kerisologi | Posted By : administrator

 
1 2 Next
Jul 2014 August 2014 Sep 2014
S M T W T F S
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31       
Categories
Album[47]
Budaya[8]
Campursari[7]
Estetika Keris[5]
Filosofi[4]
Kajian[13]
Kerisologi[6]
Mistik[1]
Recent
GOTONG ROYONG JOKOWI
RUH si RONGGENG MENYELINAP ke dalam DWISULA PADMA...
KERIS DALAM REFLEKSI
KERIS di MUSEUM WAYANG
Silaturahmi dan pemutaran Film TAFSIR KERIS
KERIS di MONUMEN NASIONAL
KAJIAN KERIS DALAM RESUME...
JALAK SANGU TUMPENG, RESONANSI dan PATRAPNYA
LAWEYAN dan KERIS
Keris Sebagai Benda Investasi
KELUARNYA KERIS NAGASASRA-KIDANGMAS, ISYARAT UNTUK NEGARAWAN
Kris an Interpretation
MERIAHNYA HARI ULANG TAHUN SNKI VII
UNDANGAN HUT SEKRETARIAT NASIONAL KERIS INDONESIA
‘RUU Santet’ dan RUU Konyol
Archives
January 2013[3]
July 2011[2]
April 2011[7]
August 2010[9]
June 2010[10]
May 2010[11]
March 2010[10]
February 2010[9]
December 2009[6]
November 2009[12]
October 2009[5]
September 2009[7]
User List
administrator[91]
Search
Syndication
Copyright © JavaKeris.com - All Rights Reserved
Managed by Toni Junus, Ph:085866213057
 free web counter Counter Powered by  RedCounter